"Mas, kamu yakin sama pilihan kamu?"
"Mas, apa enggak mau kenalan dulu dengan putri Pak Ramlan? Santriwati lulusan pondok pesantren ternama"
"Pak, Bu, apakah enggak mau kenalan dulu dengan Dewi, perempuan pilihanku?"
Hati ini terasa tersambar petir saat ku mendengar respon Bapak Ibu setelah aku sampaikan niat melamar Dewi. Seketika juga aku merasa gagal, takut tidak bisa memenuhi ucapan ku kepada Dewi tempo hari, bahkan kepada keluarganya. Janjiku melamar dia saat ini terasa di ujung harapan, berharap Tuhan mengubah pikiran dan hati Bapak dan Ibu.
"Mas, coba dipikir sing tenang, cari yang sederhana saja Mas"
Hatiku berkecamuk saat ini. Aku memutuskan untuk pulang ke perantauan. Kalut, marah dan malu berkecamuk menjadi satu. Terlintas di benak, apa yang harus aku sampaikan kepada Dewi dan keluarganya?
Aku memang bukan dari golongan priyayi seperti Dewi, perempuan lulusan kedokteran universitas ternama. Pertemuanku dengannya bukan terjadi tanpa makna, bersama-sama menjadi satu kepanitiaan kegiatan sosial kala itu. Dia sosok yang ramah dan sederhana, yang tidak ku sangka dia berasal dari keluarga terpandang.
Jika tidak bersama Dewi, mungkin aku tidak menjadi sosok saat ini. Dia mengajarkanku banyak mengenai persiapan kuliah ke luar negeri hingga berhasil mendapatkan kesempatan beasiswa di Melbourne ini. Bersama Dewi, pikiranku terbuka dengan wawasan yang selalu ia sampaikan, tentang janji untuk bersama di masa depan.
"Mas, kapan ke rumah?" Pesan Dewi yang belum bisa ku balaskan, hingga saat ini.
![]() |
| Sumber: https://id.pinterest.com/pin/808114726905312671/ |
#5CC #5CC6 #bentangpustaka #DioramaCareerClass
Tentang Pilihan
4/
5
Oleh
syafitri
