Thursday, 23 March 2023

Damar #5

 


“Ayo dari keluarga mempelai laki-laki berbaris untuk mengiringi pengantin menuju tempat akad”, terdengar suara panitia merapikan barisan.


“Wulan, kamu ke depan nduk di belakang masmu”, akupun bergegas mengikuti arahan Bude Rima dan Bulik Ani.


“ssttt sttttt, Mas Damar, deg-degan kan?”, ledekku.


“sssstttttt Wulan”, Biyung melirik ke arahku.


Senyum dan tawaku adalah caraku menutup rasa kehilangan dan ketakutan. Aku bahagia Mas Damar telah menemukan tambatannya. Harapan dan mimpi yang kami tuju saat itu terlampaui sudah. Pergi ke Kota Semarang dan berkeliling di Jakarta, terbayarkan sudah seperti janjiku kepada Mas Damar, begitupun Mas Damar yang telah menepati janjinya untukku.


Akadpun dimulai, semua tamu seketika hening dan sunyi, mendengarkan dengan seksama Bapak Penghulu. Diawali dengan basmalah dan diiringi doa untuk memohon keridhoanNya, lalu dilanjutkan qobiltu dan “saaaaaaaaaaah”, alhamdulillah. Rasa haru, senang, bahagia dan kehilangan menjadi satu berkecamuk di ruang dada diiringi dengan tetesan keharuan.


Mbak Gendhis, perempuan pilihan Mas Damar keluar dengan baju putih, nampak berparas cantik dan anggun. Perempuan dengan senyum yang manis dan suara yang lembut, dibalut dengan kesederhanaan. Tidak heran, Mas Damar terpikat olehnya. Akupun memberikan salam dan ucapan selamat kepada Mbak Gendhis dan Mas Damar, diiringi dengan foto keluarga kemudian dilanjutkan dengan upacara pengantin Jawa.


Bapak dan Biyung, beberapa kali aku mengambil potret mereka berdua di atas panggung pelaminan. Keduanya sudah nampak semakin tua, keriputan dan garis wajahnya nampak sekali tergambar. Berpuluh-puluh tahun mereka hidup dengan payahnya, berusaha keras untuk kedua anaknya. Biyung, perempuan hebat dan cakap dalam mengurus rumah tangga. Bapak, seorang yang dikenal sabar dan lugu, hidupnya lurus dan mengikuti arus pada budaya, baginya adat perempuan sebatas sekolah lalu segera menikah.


Aku memandangi Mas Damar dan Mbak Gendhis, sesekali memotret senyum keduanya. Mas Damar, cinta yang dia kasihkan berasal dari ketulusan dan oh iya, sekarang bengkel milik Mas Damar sudah semakin berkembang, dilengkapi juga dengan fasilitas cuci mobil dan cuci motor, penghasilannya juga sangat lumayan. Mbak Gendhis, aku belum jauh mengenalnya namun aku yakin Mas Damar tidak salah memilih.


“Wulan?”, sayup ku dengar suara lelaki yang tak asing ku dengar.


“oh hai, dengan…”, diapun memotongnya


“aku Hendy Lan.”


Seketika aku terdiam. Lelaki yang lama menghilang tanpa kabar, kini datang tanpa dugaan.


“Tiga hari lalu Mas Damar datang ke rumah sambil anterin undangannya, kebetulan juga aku masih ambil cuti jadi sekalian aku datang kesini”, jelasnya, “by the way, kamu apa kabar?.”


“Ooh iyaa Hen, alhamdulillah baik, enggak nyangka setelah sekian tahun tidak ada kabar dan akhirnya bertemu disini yaaah”, kataku.


Kamipun tenggelam dalam cerita dan kisah petualangannya masing-masing. Pertemuan ini tak lain ialah karena Mas Damar, kakakku yang penuh dengan kejutan. Mas Damar dan Hendy memang kenal dekat dan baik selama ini, mereka akrab satu sama lain. Akan tetapi, Mas Damar tidak pernah bercerita tentang Hendy dan aku juga tidak tau menau apakah mereka masih saling bersapa.


Mas Damar menghampiriku yang sedang asyik bercerita dengan senyum lebarnya. Hendy, merangkul Mas Damar memberikan selamat dengan akrab. Mereka terbenam dalam cengkerama dan larut dalam obrolan singkat yang aku sendiri tidak mengerti. Sambil melirik ke arahku Mas Damar berkata, “nitip” lalu pergi kembali ke atas pelaminan melanjutkan sesi foto bersamanya.


“Jadi, kapan kamu berangkat ke Jakarta?”, tanya Hendy yang ternyata dia juga merantau di Jakarta.


“Lusa Hen”, jawabku singkat.


“Oke, berangkat bareng yuk”, lalu ia berpamitan kemudian melanjutkan,


“Oh iya, kabarin juga kalo kamu sudah siap Lan”, aku mengangguk dan tersenyum, lalu ia pergi.


Aku selalu meyakini bahwa pertemuan bukanlah sesuatu hal yang kebetulan terjadi, melainkan ada makna dan sebab musabab yang tersimpan didalamnya. Akan tetapi, tentang pertemuanku dengan Hendy, aku tidak mengerti apakah ada makna yang terpendam atau hanya kebetulan begitu saja. Perihal bagaimana kisah romansa masa depan, aku serahkan sepenuhnya takdir ini kepada yang Maha Cinta.


Akupun beranjak dan berpamitan untuk pulang, bergegas mengemas pakaian untuk persiapan kembali ke perantauan. Melakukan rutinitas seperti pada biasanya, menjadi mandiri tanpa kakak lelaki. Perlahan aku mencoba mendekat dan merekatkan kembali kepada Biyung dan Bapak, berjanji mengajak mereka untuk sekedar keliling Jakarta bulan depan untuk menepati janji yang belum juga terbayarkan.


Tamat.

#5CC #5CC15 #bentangpustaka #CareerClassQLC


Artikel Terkait

Damar #5
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email