Wednesday, 22 March 2023

Damar #4



Kebahagiaan dan kekompakan keluarga seketika sirna saat aku memutuskan untuk kuliah. Mulai dari sanalah rumah menjadi tidak nyaman, tidak juga hangat. Dingin. Pernah sekali aku memutuskan untuk tidak pulang, hanya karena Bapak tau aku meminjam uang dari teman untuk membeli buku cetak. Saat itu kondisiku sulit, beasiswa masih ada masalah hingga berujung pada penundaan pembayaran beasiswa.


Sejak keluar dari rumah ke Semarang, aku dipaksa untuk mandiri bertahan oleh keadaan. Puncaknya adalah pada semester enam, kebutuhan untuk iuran kegiatan KKN serta cetak proposal seminar hingga skripsi membutuhkan biaya yang cukup terasa. Belum juga kebutuhan membeli buku referensi atau sekedar cetak artikel ilmiah, sedangkan penghasilan dari mengajar les privat dan jaga toko hanya bisa untuk sekedar membeli makan. Yaaah, satu-satunya yang bisa aku andalkan hanyalah beasiswa.


Mas, ditambah satu orang muat enggak yo mobilnya? Mbak Wulan, Dek Ani tasih longgar kan? Anu, Bu Eni mau ikut nebeng.” Bude Rima memecah keheningan mobil ini.

Oalah, Bu Guru Eni badhe nderek to Budhe. Tasih muat o Budhe, mangkih Wulan tak mundur kursi belakang”, kataku.


Mobil berhenti persis di depan rumah Bu Eni, nampak perempuan berbalut busana kebaya cokelat dengan selendang yang disampirkan, sangat cantik. Bu Eni adalah kawan Bude Rima dan juga Guru Ekonomiku di SMA, beliau sosok yang sederhana dan lembut. Bu Eni masuk ke dalam mobil, menyapa Om Reno, Bude Rima, Bulik Ani dan mencubit Kirana, anak Bulik Ani yang sedang tertidur pulas dan kemudian menengok ke belakang,


“eeeeeeeeehhh, Mba Wulan, pangling lho makin cantik aja sekarang nih nduk, kamu apa kabar?” Bu Eni menyapaku girang.


Aku lanjutkan dengan bersalaman dan menjawab pertanyaan dari Bu Eni, “baik Bu, alhamdulillah, sehat-sehat Bu?”


“alhamdulillah nduk cantik, sehat. Rimaaa, seneng banget aku ketemu Wulan, cantik, pinter, masyaallah nduk”, puji Bu Eni.


“Nduk Wulan, Biyung dan Bapakmu kemarin seneeeeng banget waktu kamu ngabarin jadwal wisuda nduk. Sehari sebelum wisuda Biyung dan Bapakmu ke rumah Ibu, nanya disana ngapain aja, terus pakaiannya apa. Biyungmu lho sampai nangis seneng nduk, Bapak juga cerita perjuanganmu masuk perguruan tinggi, Bapakmu nolak tapi Wulan masih tetap nekat. Alhamdulillahe kok ada Mas Damar yang bantu jelasin Bapak dan Biyungmu, saiki to Rima, bocahe wes jadi wong gede Jakarta yooo”, cerita Bu Eni ke aku dan Bude.


Jujur, mendengar cerita Bu Eni, hatiku rasanya bergetar. Selama ini aku ternyata salah prasangka. Aku mengira, sikap dingin Bapak memanglah ungkapan Bapak untuk menentang pilihanku. Ternyata aku salah selama ini, dari sini aku belajar satu hal bahwa respon dingin orang tua bukan berarti mereka acuh, mungkin saja mereka tidak pandai mengungkapkan perasaannya.


“Iya Bu Eni, waktu Wulan masuk TV menang lomba itukan diwawancara, Biyung Bapake Wulan ngajaki nonton rame-rame di warunge Bu Jamilah. Bungah buangettt Lan Bapakmu, masyaallah”, kata Om Reno.


Aku tersenyum mendengar cerita mereka. Ternyata, banyak kisah yang rupanya aku lewati selama ini, terlebih bahwa aku menganggap rumahku ini bukan lagi rumah. Saat itu, sepulang dari wisuda, tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Bapak maupun Biyung, semua berlalu begitu saja saat itu. Boro-boro ucapan selamat, sekedar menanyakan kabar pun tidak. Sangatlah kontras dengan apa yang disampaikan Om Reno, Bu Eni dan Bude Rima. 


Selain hubunganku dengan orang tua yang kurang baik, kebencianku dengan Mas Damar saat itupun terjadi. Karenanya, aku harus berjuang keras melawan kehidupan di Kota Semarang. Segala pekerjaan aku kerjakan, mulai dari guru les, mengikuti ajang lomba gratis, jaga toko kelontong, jadi pramusaji di salah satu restoran Jepang dan terakhir menjadi asisten dosen. Semuanya aku lakoni dengan sabar dan sepenuh hati.


Waktu itu, aku mengira bahwa seusainya aku wisuda, keluarga akan lebih dapat menerimaku. Ternyata tidak. Sayup-sayup seringkali aku mendengar obrolan di tukang sayur setiap pagi, “Wulan jadinya kerja dimana Bu, cah pinter, ayu, sekolah tinggi, kok masih di rumah". 


Kalimat itu semakin sering ku dengar, kemudian diikuti Biyung yang merengut masuk ke rumah sembari berkata, “Wulan, wis wisuda emang ora bisa langsung kerja nduk? Lihat anak Pak Rofiq, dia lulusan SMK sudah bisa ikut ngelaut atau anak Bu Farida lulus SMA sekarang sudah kerja di Koperasi Simpan Pinjam.”


Aku hanya terdiam jika Biyung sudah berkata demikian. Belum lagi Bapak yang sesekali menawarkan pekerjaan di Koperasi dekat rumah, kata Bapak daripada menganggur. Situasi saat itu membuatku semakin merasa tidak berguna, beberapa kali ucapan menyudutkanku dan membandingkan nasibku dengan nasib orang lain atau teman sepantarku. Sesekali aku menangis, aku merasa tidak berarti. 


Mas Damar, hanya dia yang tidak pernah berkomentar. Ia justru selalu memberikan selebaran lamaran kerja di koran dan meletakkannya di atas meja kamar, sampai bertumpuk. Berawal dari inilah hubungan antara aku dan Mas Damar mulai terjalin kembali seperti sebelumnya. Mas Damar mendukungku penuh semangat. 


“Wulan, siap-siapin seserahane nduk, kita udah mau sampai”, Bulik Ani menyenggolku dan berbisik.


“Nggih Bulik”, jawabku sembari menggapai kotak seserahan Mas Damar.


Cerita Bu Eni dan Bude Rima tadi membuatku tertegun mendengarnya. Berkat acara Mas Damar, aku jadi tau berbagai sudut pandang dari cerita orang-orang sekitar. Aku masih dengan rasa angkuhku enggan untuk memulai percakapan dengan Biyung dan Bapak. Sampai sekarangpun, hubungan kami masih dingin, aku berharap pada semesta agar esok dapat mendukung itikadku untuk kembali menghangatkan keluarga ini.


(Bersambung...)


#5CC #5CC14 #BentangPustaka #CareerClassQLC


Kira-kira, bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Wulan mampu untuk menghangatkan kembali rumah yang sudah dingin ini? Nantikan kisahnya ya gais, stay tuned!





Artikel Terkait

Damar #4
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email