“Mbak Wulan, kenapa ditekuk terus
sih mukanya, gimana cowok berani mendekat to mbak”, Bude Rima dengan nada
bercanda.
“Ih bude, hahaaa, doakan Bude biar
segera menyusul Mas Damar naik pelaminan”, jawabku sekenanya.
“ayok cah ayu, kita bawa seserahan
ini ke mobil Om Reno” , ucap Bulek Ani.
“Oke Bulik, laksanakan!”, sambil sikap hormat lalu mereka tertawa melihat tingkahku.
Akupun mengikuti Bude Rima dan
Bulik Ani, kami berjalan menghampiri mobil Om Reno. Meletakkan beberapa kotak
seserahan dan memastikan semuanya terangkut dengan aman. Hatiku makin tidak
karuan, jantung makin berdebar ketika teringat hari ini Mas Damar akad
pernikahan.
Setelah semua seserahan selesai diangkut, kamipun
bersiap untuk perjalanan menuju rumah mempelai perempuan. Om Reno nampak sedang
koordinasi dengan rombongan mobil lainnya, mungkin membahas rute mana yang akan
dilewati dengan Pakde Giar dan Pakde Karto.
“sampun sedoyo? Mboten wonten
sing ketinggalan?”, Om Reno menanyai kami di setiap mobil untuk memastikan
tidak ada barang dan juga orang yang tertinggal. Bismillah. Mobilpun mulai berjalan,
kemudian terdengar suara Bude Rima memecah keheningan,
“besok tahun depan giliran kamu
ya cah ayu”
“aamiin, insyaallah Bude”,
jawabku.
“Oiya Wulan, temenmu yang dulu sempet
main ke rumah sekarang dimana?” pertanyaan Bulik Ani di luar ekspektasi.
“siapa sih Bulik?”, tanyaku
memastikan apakah yang ada di pikiranku sama dengan pikiran Bulik Ani.
“Itu lho, yang dulu temenmu SMA,
siapa namanya bulik lupa, yang dulu sering ke rumah ngurus kepanitiaan penerimaan
siswa baru yang kalo ke rumah naik sepeda”
“oooh, Hendy ya Bulik”
“iyaaaa, sekarang apa kabar dia
Lan dan dimana sekarang?”, tanya Bulik Ani.
Hendy, adalah sosok sahabatku semasa sekolah sejak SMP kemudian kami bertemu lagi di SMA yang sama. Kami dikenal saling berkompetisi apalagi waktu pemilihan Ketua OSIS SMA, saat itu antara anak jurusan IPA dan IPS jadi pecah kubu, aku dari IPS dan Hendy adalah IPA, kami saling berebut suara dengan kampanye dan propaganda yang kami usung masing-masing.
Pada hari penentuan, hasil votingku ternyata lebih tinggi dibandingkan Hendy. Beda tipis, hanya 2 poin. Lalu, di hari yang sama aku resmi menjadi Ketua OSIS dan Hendy adalah Wakil Ketua OSIS. Selama kami menjalankan tugas, semuanya terasa berjalan lancar. Kami saling back up satu sama lain dan menyatukan kubu IPA dan IPS, berbaur bersama.
Berawal dari OSIS inilah kami menjadi dekat dan semakin akrab. Sesekali ia berkunjung ke rumah untuk sekedar mengajak belajar kelompok atau sekedar mengajak olahraga di alun-alun.
Sesekali juga kita ribut, memperdebatkan pemikiran kita yang tidak sejalan. Meskipun demikian, dia adalah sosok lelaki yang loyal, tanggung jawab dan baik hati serta terbuka dengan segala masukan, salah satunya masukan dari Mas Damar. Ia cukup dekat dan teracuni dengan ide-ide Mas Damar.
“oalah Mbak Wulan kalo ditanya
ngga dijawab malah mesem mesem”, celetuk Om Reno.
“oiyooo Om, ngapunten lho
Bulik, Wulan lho malah keinget masa-masa SMA”, jawabku.
“tapi, Wulan juga ngga tau Bulik
sekarang Hendy dimana, terakhir sih ketemu di UGM dan sempat mengobrol kalo dia
kuliah di ITS jurusan teknik, hmmm, tapi kurang paham teknik apa, wong Wulan enggak
pernah berkirim kabar ke dia”, lanjutku menjelaskan.
“sing mana to, Bude kok kepo
iki lho”, Bude Rima menambahkan.
“cocok Bude nek kalih Wulan”,
canda Bulik Ani.
Akupun hanya menimpali dengan
senyuman dan tawa. Sepanjang perjalanan ini, memoriku tentang masa SMA pun
terpanggil. Masih sangat jelas terekam Hendy yang terakhir kali aku melihatnya
waktu kita mengikuti lomba karya ilmiah nasional di UGM. Ngobrol sebentar, lalu
pergi. Sosok yang hangat dan menyenangkan sejauh ini.
Duduk di bangku SMA adalah masa yang
paling berkesan saat itu. Memiliki banyak teman dan riuh saat aku diminta maju
memimpin upacara atau sekedar menjadi MC kegiatan. Serasa panggung ini milikku.
Hingga menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti kegiatan
pertukaran pelajar di salah satu Sekolah Internasional di Semarang beberapa
bulan. Pengalaman yang sangat berharga.
Disamping itu, peran keluarga
yang hangat dan kompak adalah penyemangatku untuk bergerak maju. Biyung yang
riweh ketika tau aku akan orasi pemilihan ketua OSIS dan memintaku berlatih di
depan Biyung. Bapak ikut menjadi audiens bersama Mas Damar yang sesekali menyumbangkan
tepuk tangan. Lucu. Aku bersyukur berada di lingkungan keluarga yang hangat ini
dengan kebahagiaan yang sederhana.
#5CC #5CC13 #Bentang Pustaka #CareerClassQLC
