Monday, 20 March 2023

Damar #2

 


Semarang, kota ini akan menjadi pijakanku untuk menjelajah empat tahun lamanya. Rasa takut dan cemas merasuki perasaan dan hatiku saat ini. Ada banyak kekhawatiran membumbung dalam khayal, apakah aku bisa? Apakah aku mampu? Apakah aku bisa bertahan?



Berjuta tanya di pikiranku ini dipecahkan oleh suara Mas Damar, yang seolah dia mendengar keramaian pikiranku, “Dek, kamu mampu dan bisa, percayalah. Jadi, mau beli apa dulu nih? Perabot kosan atau ke swalayan?”


Segala perlengkapan dan kebutuhanku sudah dipenuhi oleh Mas Damar. Sesekali aku bertanya, darimanakah uang Mas Damar? Mas Damar hanya tersenyum dan menjawab, “tidak penting itu dek”.  Ah, selalu dengan jawaban yang sama. Aku merasa berhutang banyak dengan Mas Damar.


Sehari berlalu dengan cepatnya dan sore sudah mulai menyapa. Tiba saatnya Mas Damar pamit untuk meninggalkanku di kos ini seorang diri. Sudah sangat detil rasanya Mas Damar memberikan penjelasan dan berkeliling sekitar kos hanya untuk melihat warteg, swalayan, tukang foto kopi dan toko kelontong.


Dek, ini ada uang sedikit untuk kamu pegang sementara dan ponsel ini untukmu, biar bisa tetap menghubungi Biyung dan Bapak di rumah.


 “Tapi Mas, bagaimana dengan Mas Damar nantinya?”


“Mas bisa cari lagi Dek dan ini laptop untuk bekal kamu kuliah. Maaf Dek, meskipun bekas tapi ini masih layak pakai, insyaallah.”


Bibirku terasa kelu kali ini, aku tidak bisa mengatakan apapun. Mas Damar, lagi-lagi aku banyak berhutang. Ia rela membeli laptop bekas milik kawannya sekolah dengan mencicilnya. Melihat semangat Mas Damar, aku menjadi takut jika semua tidak sesuai dengan harapannya. Takut gagal. Aku takut membuat Mas Damar kecewa dan menjadikan semua ini sia-sia.


“Dek, sekarang kamu sudah dewasa, Mas Damar pesan jaga dirimu baik-baik. Manfaatkan kesempatanmu disini untuk belajar banyak hal. Biyung, Bapak dan Mas Damar selalu mendoakanmu dari rumah untuk keselamatan dan kesuksesan kamu disini. Mas Damar percaya sama kamu Dek.”


Ketakutan ini semakin terasa, air mata terbendung di pelupuk. Aku hanya mengangguk menjawab pesan Mas Damar. Kamipun bersalaman dan Mas Damarpun berlalu. Air mataku meleleh, mengiringi kepergian Mas Damar. “Aku janji mas”, ucapku lirih.


Hari demi hari, aku lalui semua kehidupan ini sendiri. Segala payah dan susah aku hadapi demi masa depan yang lebih cerah.  Akan tetapi, nyatanya kehidupan ini sangat berat untuk ku pikul sendiri, terlebih saat aku memulai untuk bekerja paruh waktu di toko kelontong dekat kos sebagai penjaga toko. Semua aku lalui karena tidak ada pilihan lain selain bertahan dan berjuang.


Perjuanganku tidak mudah. Semua harus aku jalani dengan sepenuh hati. Sesekali aku telepon Mas Damar untuk sekedar mengobati rinduku dengannya dan melanjutkan menyusun mimpi kita bersama untuk memperbaiki nasib keluarga. Kami selalu berkabar satu sama lain, entah melalui SMS ataupun telepon suara, hampir setiap hari.


Meskipun demikian, hingga menjelang usainya semester pertama ini, Bapak masih belum mau mengobrol denganku. Apa boleh buat, aku sudah sejauh ini melangkah dan Mas Damar sudah sepenuh hati berkorban. Sesekali Biyung, menampakkan suaranya untuk menanyakan kabar tanpa melanjutkan obrolan yang lebih panjang. Sikap dingin Bapak sangat sesak di dada.


“Sing sabar yo dek”


Hari-hari beratku berlalu dengan cepatnya, tak terasa yudisium perdanaku datang juga. Aku percaya dan yakin, semua hasilnya akan baik dan aku percaya dengan apa yang Mas Damar sampaikan. Selama ini, Mas Damar tidak pernah salah. 


Perlahan aku memberanikan diri untuk membuka sistem, perlahan aku masukkan nama dan kata sandi untuk membukanya. Bismillah, dan segala rasa percaya diriku seketika sirna, tertulis disana nilai IP 3.0. Masih jauh dari nilai Cum Laude yang ditargetkan untuk tetap mempertahankan beasiswa. Kali ini Mas Damar salah.


Hari berganti menjadi bulan, lalu bulan menjadi tahun. Masa kuliah ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Berapa kali kegagalan menghampiriku, mulai dari gagal Cum Laude, kalah lomba, gagal menjadi kandidat mahasiswa berprestasi dan segala kegagalan lainnya dalam dua tahun perjalananku kuliah disini. Hanya satu hal yang masih aku syukuri, beasiswa masih dapat bertahan hingga detik ini. Ternyata, menaklukan kehidupan ini tidaklah perkara mudah.


Kuliah dan bekerja, adalah rutinitas kehidupanku sekarang. Siapa lagi yang bisa menghidupiku selain diriku sendiri. Siapakah yang peduli denganku selain aku sendiri. Aku merasa seperti terjebak dalam labirin kehidupan. Semua ini gara-gara ide gilanya Mas Damar. Aku benci dengan Mas Damar yang memaksaku berkuliah dengan iming-iming masa depan yang cerah. Dasar, pembual ulung!


Tiba-tiba Mas Damar meneleponku disaat aku sedang kalut dengannya, terdengar suara ia memberikan salam dan menanyakan kabar. Aku sampaikan bahwa hari ini aku merasa sangat gagal. Mas Damar dengan gaya santainya mengatakan, “semua akan bisa kamu lalui”. Ya memang aku bisa melaluinya, tapi tidak dengan keberhasilannya. Aku Lelah dengan keseharian ini, jenuh dan makin berat terasa.


Sesekali aku menengok ke belakang, mengandai-andai jika waktu itu mengikuti apa kata Biyung dan Bapak, mungkin sekarang aku sudah bekerja memberikan sepeser uang untuk keluarga. Jika waktu dapat diputar lagi, mungkin hubunganku dengan Biyung dan Bapak akan baik-baik saja. Tak jarang pikiran bertanya, “apakah aku durhaka hingga sepedih ini jalan yang harus aku lewati?”


(Bersambung...)


#5CC #5CC12 #BentangPustaka #CareerClassQLC

Stay tuned dan tunggu update kisah berikutnya yang akan di share di blog, instagram dan tumblr atas nama syafitrisudibyo.


Artikel Terkait

Damar #2
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email