Dinginnya Subuh ini membuatku
enggan untuk beranjak. Sambil mengucek mata dan mengumpulkan niat untuk bangun,
aku melihat semuanya nampak sibuk, Bulik Ani sedang membangunkan anaknya yang
sedang tertidur pulas, Om Reno sedang memanasi mobil di depan rumah, Bude Rima
sedang sibuk menuangkan teh panas dan mempersiapkan sarapan untuk kami. Ruang
tengah terlihat sesak, ada Biyung dan Bapak sedang mempersiapkan pakaian, tak
lupa ada Mas Damar yang terlihat sedang membawa kertas sesekali nampak rasa
cemas di rautnya.
“Sudah hafal Mas? Jangan gugup,
hati-hati kepleset lidah lho” ledekku kepada Mas Damar.
Hari ini akan menjadi hari
bahagia Mas Damar, mempersunting sosok perempuan terbaik versinya. Kakak iparku
akan sangat beruntung memiliki Mas Damar, lelaki bersahaja, sederhana dan
berwawasan luas. Kebahagiaan dan kehangatan menyelimuti suasana rumah,
mengalahkan sejuknya Wonosobo pagi ini. Senyum lebar dan candaan keluarga besar
seperti inilah yang selalu aku rindukan saat kembali ke ibu kota. Kehangatan
dan kerukunan dibalut dengan rasa ketulusan keluarga, menenangkan. Tentram.
Sejenak mataku berkeliling
menatap setiap sudut kamar ini, masih apik dan tertata rapih. Tak nampak usang
meski sudah lama ku tinggal. Aku tersenyum, melihat foto aku dan Mas Damar
diatas meja belajar, kudapati tulisan tangan Biyung dibalik foto ini, “Damar
Wulan, 19 Maret 2009” dengan usiaku yang saat itu masih SMP dan Mas Damar lulus SMK.
Satu-satunya foto masa kecil yang kita miliki, ialah potret kenang-kenangan dari
hasil jepretan Om Reno yang waktu itu dapat pinjaman kamera dari tempatnya
bekerja sebagai tukang foto.
Menatap foto ini, pikiranku
melayang ke suasana itu dan semuanya berawal dari sini, bilik kamar yang kecil
dan sangat sederhana. Mas Damar adalah kakak laki-laki yang sempurna di mataku.
Sesuai namanya, damar berartikan cahaya yang menerangi kegelapan dan memberikan
kehangatan. Layaknya tata surya, bulan tidak akan bercahaya tanpa adanya sinar
yang meneranginya, begitulah kiranya aku dan Mas Damar, tanpa Mas Damar aku
tidaklah bisa menjadi aku yang sekarang ini.
“Dek, kamu mau ngga janji sama
aku?”
“Janji apa Mas?”
“Kamu sekolah yang rajin nanti
ajak Mas Damar ke kota yooo, soalnya Mas Damar ngga sepinter kamu, pliiiissss”
Percakapan masa kecil menjelang
tidur itu selalu terngiang ketika aku pulang ke rumah ini. Berangkat dari
percakapan sederhana dan mimpi Mas Damar, petualanganku dimulai. Entah mengapa,
aku ingin sekali mewujudkan harapan Mas Damar pergi ke kota kala itu. Keinginan
menjadi makin tidak terbendung saat melihat Biyung dan Bapak sangat antusias
menonton TV yang menayangkan gedung-gedung tinggi Jakarta dan Biyung terheran-heran
bagaimana cara membangunnya. Aku ingin mengajak mereka menikmati pemandangan
kota, mengajak makan enak dan mengunjungi hotel untuk sekedar merasakan
dinginnya AC dan empuknya sofa.
Biyung, Bapak dan Mas Damar adalah pemantik semangatku untuk terus maju dan berusaha keras menaklukan dunia. Aku tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana, Biyung bekerja sebagai tukang sayur dan Bapak menggarap sawah milik orang dengan gaji harian sedangkan Mas Damar, lulusan SMK yang melanjutkan bekerja sebagai montir sepeda motor, yaaah sesekali menjadi kondektur bus.
“Dek, pokoknya kamu harus sekolah
tinggi, Mas Damar selalu mendukungmu”
“Mas, apa mungkin?”
“Dek, ingat mimpi-mimpi kamu kan
dan janji yang kamu sampaikan ke Mas Damar?”
Percakapan 14 tahun lalu itu
kembali menyelinap di telinga dan pikiranku. Ajaibnya, aku seperti terhipnotis
saat Mas Damar mengatakan demikian. Saat aku rapuh dan menyerah, selalu ada Mas
Damar yang mendukungku sedemikian rupa. Tak jarang saat aku berada di
kepayahan, Mas Damar datang dengan pena dan kertasnya, lalu ia membuatkan
semacam peta konsep untuk mengejawantahkan masalah dan memberikan pilihan
solusi. Aku akui, pendidikan Mas Damar memang hanya SMK tapi aku berani taruhan
Mas Damar memiliki wawasan yang luas. Selama ada Mas Damar aku merasa tenang
dan selalu percaya dengan apa yang Mas Damar sampaikan, termasuk tekad mendaftar
ke perguruan tinggi waktu itu. Jika orang lain bertanya, darimanakah ide gilaku
ini datang? Jawabannya adalah Mas Damar.
“Mas, aku diterima beasiswa Mas,
Biyuuuuuung, Bapaaaaaaaak, Wulan kuliaaaah”
Kala itu, keputusan melanjutkan kuliah adalah keputusan sepihak antara aku dan Mas Damar. Terlihat raut muka Biyung dan Bapak mengernyitkan kening, bingung, Bapak hanya berlalu tanpa sepatah katapun. Aku mendengar Bapak bergumam sendiri di teras rumah sambil melanjutkan memotong bambu untuk pagar rumah kami, “nduk nduk, Bapak uripe wes susah kok yo kuliah, duit darimana to nduk”, gumam Bapak sambil sesekali menyeka keringat yang mengucur di wajah.
Aku melangkah menghampiri Biyung di dapur dan aku mendapatinya sedang menyeka air mata sambil berkata, “nduk, sudah Biyung sampaikan kan, kerjo sek nduk ojo kuliah, Wulan kan wedok toh nantinya kewajiban Wulan ngurus dapur dan menikah”. Kalimat Biyung membuat aku merasa tidak ada dukungan, sedangkan apa yang disampaikan Biyung juga bukan mimpi yang selama ini kurajut dan aku susun bersama Mas Damar.
Mas Damar menghampiriku dan
mengatakan, “lanjutkan langkahmu, ada mas”
Saat itu, hanya omongan Mas Damar
yang benar-benar bisa aku pegang. Aku sangat berharap dengan Mas Damar, aku
percaya dengan segala mimpi yang aku rancang bersama Mas Damar.
“Mas, rewangi Wulan”
“Pamit sama Biyung dan Bapak,
lusa Mas Damar temani Wulan ke Semarang”
Aku memeluk Mas Damar lekat,
menangis di bahu Mas Damar sejadinya saat itu. Aku mengikuti apa kata Mas
Damar, pamit dan memohon ridho kepada Biyung dan Bapak untuk tetap melanjutkan
mimpi ini. Aku sampaikan pelan-pelan maksud dan cita-citaku kepada Biyung dan
Bapak. Sambil menangis, Biyung terpaksa memberikan izin namun tidak dengan
Bapak.
Hingga hari keberangkatanku ke
Semarang, Bapak masih dengan pendiriannya untuk memintaku tidak melanjutkan
kuliah karena tidak adanya biaya, namun lagi-lagi Mas Damar, ia menarikku untuk
pergi. Terlihat Bapak berlari mengejar kami yang sudah duduk di angkot dan
sayup terdengar teriakan Bapak dari kejauhan,
“Wulaaaaan, kok kamu sekarang
enggak nuruuuuuut sama Bapaaaaak to nduuuuk”.
Aku menatap Mas Damar lekat
sambil menahan tangis, ada rasa takut dan khawatir berkecamuk di pikiran,
akupun berbisik kepada Mas Damar,
“Mas, apakah jalan kita benar?”
- Bersambung..
#5CC #5CC11 #bentangpustaka #CareerClassQLC
Kira-kira, bagaimanakah kisah Damar mengajak adiknya Wulan untuk menerjang kerasnya dunia? Akankah mereka sampai di tujuan akhir sesuai harapan Wulan untuk menggenggam dunia?
Nantikan kisah Damar di episode selanjutnya yaaa, cerita ini akan update dan bersambung setiap harinya di blog syafitrisudibyo, stay tuned!
