Friday, 7 April 2023

Project Besar Bapak #6


.

I.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tidak terasa empat tahun sudah melewati semua suka dan duka setelah kepergian Bapak. Sejak tidak ada Bapak, rumah menjadi banyak berubah. Hari ini semuanya berkumpul, merayakan momen kebersamaan dengan keluarga adalah hal terindah yang aku rasakan. Setelah sekian tahun hidup merantau di masing-masing tanah orang, sekarang akhirnya kita dapat berkumpul bersama seperti empat tahun silam.


“ayoooo kita makaaan, aku udah menyiapkan masakan spesial untuk kitaaaa”, seruku sambil mengeluarkan banyak makanan dari dapur ke meja tengah. Seperti biasa, Mas Biyya mulai rakus dengan puding mangga yang aku buat dilanjutkan baku hantam oleh Dek Arsa. Ibu pun tersenyum melihatnya. Semuanya, masih sama dengan empat tahun ke belakang.


“berebut teruuuuss, paten nih kalo ribut pasti karna puding mangga”, canda Ibu yang terlihat sangat senang anak-anaknya berkumpul bersama. Senyumnya merekah, makin menambah kecantikan alaminya. Aku sangat senang dengan keluarga ini. Saling penuh support dan motivasi satu sama lainnya.


“ayam bakarnya asliiii enak bangetttt!!!”, puji Mas Biyya.


“ini pizzanya ngga kalah uenaaaakkk mbak!!”, Dek Arsa pun samaaa.


“asli, beri hormat untuk koki kita! Ngga salah sih kemarin dapat beasiswa magang ke di salah satu hotel Singapore!!”, Mas Biyya dan Dek Arsa membungkukkan badan memberi hormat, “oke chef! nanti makan apa lagi kita?”, canda Dek Arsa.


“Terima kasih lho, ini semua juga berkat Mas Biyya dan juga Bapak yang memberikan arahan, juga Ibu dan Dek Arsa yang selalu membawa pom pom untuk menyemangatiku”, candaku.


Oh iya, waktu itu akhirnya aku memutuskan mengambil tata boga di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Berkat Mas Biyya, aku berhasil lulus disana dan belajar dengan penuh kebahagiaan. Mengapa tidak, ternyata pilihanku mengambil jurusan memasak bukan hal yang salah dan bukan juga hal yang membosankan. Aku merasa mendapatkan banyak keterampilan setelah sekolah dari sana, mulai dari kedisiplinan, kerapihan, penampilan serta ide kreatifitas yang harus terus diasah untuk menghasilkan masakan yang lezat.


“Mas Biyya, Mba Dista dan Dek Arsa, Ibu mau ngomong satu pesan dari Bapak”, kami terheran, pesan apalagi yang Bapak berikan ke kita. Seperti yang kita ketahui, semua anaknya sudah berhasil mewujudkan mimpi dan harapannya Bapak. Sejenak terdiam, kami saling memandang dan Ibu melanjutkan, “begini, ini ada video dari Bapak, kita tonton bersama dan disini juga ada kotak surat yang Ibu sendiri belum tau isinya apa”, kemudian Ibu meminta Dek Arsa untuk setel video Bapak.

******

Assalamualaikum, apa kabar semua? Sehat selalu kan?


Jika video ini sudah disetel, artinya Bapak harus mengucapkan Selamat kepada anak-anak Bapak yang sudah berhasil meraih gelar pendidikannya. Bapak sangat senang dan bangga sekali dengan pencapaian-pencapaian kalian. Bapak berharap, kalian mengikuti apa yang sudah Bapak sampaikan di video awal. 


Pesan Bapak sebelumnya bukanlah karena Bapak menebak atau memaksa Biyya, Dista dan Arsa. Bapak hanya melihat dari pengamatan Bapak dan dibantu dengan Ibu tentang tumbuh kembang anak-anak Bapak. Bapak mencatat setiap perubahan dan peningkatan di fase kehidupan kalian sehingga Bapak bisa menyimpulkan dan memberikan arahan serta pandangan di masa depan kalian.


Bapak paham betapa Biyya menyukai hal-hal yang berkaitan dengan wirausaha. Sejak kecil, Biyya senang sekali berbisnis seperti menjual kelereng yang laris manis dan jadi bandar kelereng. Kemudian pernah menjual gambar-gambar kartu ke teman-temannya dan masih banyak hal lainnya yang Bapak lihat arahnya Biyya ya ada di bidang bisnis. Apalagi, nilai matematika Biyya yang selalu menjadi nilai tertinggi, menjadikan Bapak yakin bahwa Biyya mampu untuk masuk ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis.


Bapak juga mengerti Adista, meskipun dia seorang yang cukup membantah dengan apa yang Bapak sampaikan kalau Adista ini nyawanya ada di masakan. Adista mungkin tidak percaya dengan apa yang Bapak sampaikan, namun jika boleh jujur rasanya masakan Dista adalah masakan terenak yang pernah Bapak rasakan. Bapak akan selalu kangen dengan masakan Dista, pasti. Oleh karenanya, Bapak berharap agar kamu bisa masuk ke dunia memasak, ambillah jurusan tata boga atau pariwisata di bidang memasak. Bapak yakin, pasti banyak yang mau beli masakan Dista nantinya.


Untuk anak Bapak yang paling bontot, Arsa. Kamu dari kecil hobinya mainan lego. Ketika udah agak gedean, kelihatannya kamu suka tentang dunia gambar. Bapak menikmati setiap goresan warna dan tinta yang kamu buat, Sa. Kamu juga pandai dalam membuat rancangan atau kamu yang sangat pensaran dengan gedung-gedung tinggi di ibu kota. Dari sanalah Bapak melihat kamu punya potensi untuk masuk ke dunia arsitektur. Bapak yakin kamu sangat bisa.


Bapak berharap, Mas Biyya bisa membantu adek-adeknya untuk mengembangkan bisnis mereka, ajarkanlah ke adek-adekmu ya Biyya. Mbak Dista juga, support Mas Biyya dan Dek Arsa jika mereka butuh bantuan dan supportnya. Dek Arsa, kamu juga support kakak-kakakmu ini yaaa barangkali ada kebutuhan-kebutuhan tentang desain rumah. Pokoknya, kalian semua kelak saling membantu dan support satu sama lain. Satu lagi, Bapak nitip Ibu ke kalian.


Mas Biyya, Mbak Dista dan Arsa, Bapak ada satu hal yang ingin Bapak sampaikan. Dalam pesan di kotak warna merah muda itu, terselip suatu alamat yang memang Bapak sengajakan untuk disimpan oleh Ibu hingga anak-anak Bapak sudah siap. Datanglah kesana dan pelajari seluk beluknya. Bapak yakin, kalian pasti bisa untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ini adalah project besar Bapak yang belum berhasil Bapak tunaikan. Bapak hanya berpesan itu pada kalian.


Sehat selalu dan salam.

*******

Kami termenung disepanjang perjalanan menuju alamat yang Bapak titipkan. Antara yakin atau tidak, kami hanya mengikuti apa yang ada di video ini. Aku, Mas Biyya, Dek Arsa dan Ibu, kami langsung bergegas ke tempat. Kami sama-sama tidak tahu menahu apa yang sebenernya terjadi.


Sesampainya ditempat, kami disambut oleh Pak Maman yang ternyata merupakan satpam di sebuah villa kecil di daerah dataran tinggi Dieng. Kamipun bingung dibuatnya. Villa ini cukup besar, unik dan elegan. Terlihat Ibu sangatlah akrab dengan Pak Maman, kemudian Ibu menyapa beberapa karyawan yang ada di villa ini.


“Ini Mas Biyya, Mbak Dista dan Mas Arsa?”, kami mengangguk, “kenalkan saya Pak Rohim, pengelola villa milik Bapak”, kami makin bingung dibuatnya karena Bapak tidak pernah mengatakan demikian. “Jadi, memang ini villa milik Bapak dan Ibu, sebelum meninggal Bapak nitip pesan kalau villa ini nanti akan dikelola dan dikembangkan oleh anak-anak Bapak. Bapak sangat bangga dengan Mas dan Mbak ini lho. Bapak berharap agar villa ini nantinya dapat semakin ramai pengunjung dan rencananya Bapak pengen buka restoran atau kafe kecil di area villa”, kami hanya mengangguk dan saling pandang.


“Mungkin kalian masih bingung yaaa, jadi ini usaha Bapak dan Ibu waktu kita masih sama-sama muda. Kami memang menyembunyikan hal ini agar kalian tetap terus belajar tanpa penuh dengan fasilitas yang berlimpah. Bapak pengen anak-anak Bapak hidup dengan sederhana. Sekarang, saatnya usaha ini Ibu wariskan ke kalian, kelolalah dengan baik dan bijak”, seraya memberikan jabat tangan kepada kami dan dilanjutkan dengan penjelasan singkat rencana dan target bisnis villa ini. Kamipun tenggelam dalam diskusi dan rencana bisnis kedepannya. Aku tidak menyangka kisah Project Besar Bapak ini berakhir dengan indah. Sungguh, Bapak sangatlah luar biasa.



Tamat.

#5CC #5CC21 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Artikel Terkait

Project Besar Bapak #6
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email