Sore ini semuanya berkumpul di rumah. Mas Biyya menjemput Dek Arsa untuk berangkat ke Bandung mengurus administrasi serta mulai mempersiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa baru. “Kosannya sudah ada Bu, tinggal masuk dan insyaallah lingkungannya baik”, Mas Biyya nampak sedang meyakinkan Ibu bahwa Arsa berada di tempat yang aman. Ibupun mengangguk.
Sore disertai rintik hujan ini membuat suasana menjadi haru bercampur sedih. Ibu bilang akan terasa kesepian jika anak-anaknya semua merantau untuk sekolah. Akan tetapi, Ibu juga tidak bisa menghalangi langkah anak-anaknya. Satu hal yang selalu terucap dari bibir Ibu adalah doa.
“Dista, kamu kapan pengumuman? Sudah daftar ke perguruan tinggi dimana saja?”, Mas Biyya menanyakan.
“Eh Mas, kemarin daftar di Semarang aja mas dan belum daftar kemana-mana lagi, masih berusaha untuk masuk PTN mas”, jawabku dengan tertunduk khawatir dan takut akan respon Mas Biyya.
“Kamu yakin mau satu aja? Pengumuman kapan? Jadi ambil apa?”, Mas Biyya menghardikku dengan banyak pertanyaan.
“Nanti malam pengumumannya Mas.. Ehhmm, aku ambil sastra aja mas, sama seperti tahun lalu”
“Yakin? Kamu kenapa enggak coba yang lainnya juga sih, kenapa engga coba ambil tata boga seperti saran Bapak?”, Mas Biyya seperti sedang memarahiku, ia pun melanjutkan “Kita lihat nanti hasilnya seperti apa, kalo ternyata enggak lolos adalah konsekuensi kamu, kenapa mencoba masuk di kubangan yang sama”
Akupun hanya tertunduk. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Perihal pilihan sastra bukanlah karena egoku, namun hanya karena rasa penasaranku. Aku masih ingin membuktikan bahwa aku mampu dan bisa masuk di jurusan yang aku inginkan dari dulu. Aku ingin menjadi penulis, menulis banyak hal dari cerita, puisi maupun novel. Aku hanya ingin itu.
“Aku yakin Mbak Dista bisa kok tembus, bismillah”, Dek Arsa menenangkanku untuk yang kesekian kalinya.
Mas Biyya masih kecut. Aku takut jika Mas Biyya sudah demikian. Memang sih ini adalah kesalahanku. Salah karena tidak pernah mengkomunikasikan kepada Mas Biyya atas apa yang menjadi pilihan dan cita-citaku. Aku hanya berharap dengan penuh khusyuk agar kali ini keberuntungan berada di pihakku.
“Coba, stand by aja dari sekarang Dek! Kita lihat bareng-bareng hasilnya apa nanti yaaa”, ujar Mas Biyya saat melihatku nampak melihat jam dinding dengan muka tegang.
“Mas Biyya, sudah sudah”, Ibu berusaha menenangkan suasana. Aku tau Mas Biyya lumayan kesal denganku karena Mas Biyya bilang bahwa sebisa mungkin aku menurut apa kata Bapak, karena menurutnya Bapak adalah sosok yang selalu memiliki kecermatan analisa yang akurat.
Beberapa menit berlalu, kini saatnya waktu menunjukkan pada jadwal pengumuman. Semuanya terlihat antusias. Ibu, Mas Biyya dan Dek Arsa nampak ikut tegang menunggu hasil. Penuh gemetar, aku mencoba untuk masuk ke sistem. Beberapa kali gagal. Setelah sekian percobaan, akhirnya berhasil juga untuk masuk ke sistem, kemudian loading cukup lama. Aku memejamkan mata penuh dengan doa dan hasilnya, MAAF ANDA BELUM LULUS!
Hatiku hancur sedemikian rupa. Aku menangis. Mengutuki diri. Menyalahkan diri sendiri. Kesempatanku hilang sudah tahun ini. Aku yang masih bersikeras masuk jurusan Sastra Indonesia, ternyata gagal beberapa kali. Aku menatap wajah mereka, penuh dengan rasa layu dan sayu melihat kenyataan ini. Satu hal lainnya ialah aku takut dengan Mas Biyya.
“Lihat? Puas? Gagalkan? Selamat!”, Mas Biyya kini bernada keras, ia pun melanjutkan “sudah berapa kali Mas Biyya bilang kalo kamu tuh harusnya nurut sama apa kata Bapaaaak Distaaa. Mas Biyya, Dek Arsa, semuanya nurut sama apa yang disampaikan Bapak dan kamu lihat kan? Arsa berhasil lolos arsitektur seperti apa yang diharapkan Bapak. Kamu??”
“Mas Biyya!! Sudah Mas, ini juga kan di luar kendali Mbak Dista!”, Arsa nampak membelaku.
“luar kendali?? Heeeyy, semua bisa diantisipasi dari awal, ada strategi, apalagi sudah ada arahan dari Bapak. Dianya sendiri yang enggak pernah mau nurut apa kata Bapak”
“Biyyaaaaa, sudah cukup Mas!”, Ibu memelukku.
“Semuanya membela Dista, padahal dianya sendiri yang membuat hal ini terjadi. Apa sih susahnya mendengarkan saran orang? Lagian salah Bapak juga, dari dulu manjain Dista hanya karena dia anak perempuan satu-satunya di rumah ini”, Mas Biyya makin mengeraskan suaranya.
“Biyyaaa! Sudah sudah nak, istighfar!”, Ibu memeluk Mas Biyya.
“Bu, selama ini Biyya terima segala didikan disiplin dari Bapak dan Ibu, termasuk juga Arsa. Katanya, kita laki-laki harus bisa menjadi laki-laki yang tangguh dan kuat. Ngga banyak rewel! Tapi juga harusnya Bapak mendidik anak perempuannya agar bisa menjadi sosok yang mandiri, disiplin dan tangguh, bukan perempuan manja seperti sekarang ini. Lihat, sekarang dia menangis kan karena kesalahan dia sendiri. Egonya sendiri”
“Mas Biyyaaaa, sudahlah Mas, semua ada solusinya kok, kita pikirkan bersama-sama aja yuk Mas”, Dek Arsa mencoba menenangkan Mas Biyya.
“Iyaaa mas iyaaaa, aku yang salah, semuanya gara-gara aku! Aku enggak pernah dianggap benar di mata mas Biyya. Aku hanya ingin mencoba apa yang aku minati, apa itu salah Mas?”, aku menjawab suara Mas Biyya dengan tinggi pula.
“Kamu tuh keras kepala!”, Mas Biyya dengan singkat.
Aku merasa sedih, marah dan menyesal dengan semuanya. Keluarga ini jadi riuh hanya karena aku. Aku yang memang senang berada di pikiranku sendiri, bukan karena orang lain. Aku menyingkir dari ruang tengah. Bergegas ke kamar, tentu dengan air mata yang menetes tidak terhenti. Baru kali ini Mas Biyya mengeluarkan amarahnya. Baru kali ini aku dibentak sedemikiannya oleh seseorang yang aku anggap panutan. Akupun melanjutkan untuk mencari pendaftaran yang masih dibuka. Satu persatu aku telusuri dengan penuh harap. Akan aku coba segala cara demi sekolah.
toook tooook,-- terdengar suara ketukan pintu kamar. Aku membukanya, Mas Biyya.
“masih mau marah sama aku mas?”, ketusku
“Maafkan Mas Biyya tadi dek, Mas Biyya hanya ingin kamu segera kuliah. Mas Biyya ingin kamu diterima seperti Arsa, udah itu aja”, Mas Biyya meminta maaf lalu melanjutkan, “mau ngga Mas Biyya bantu temani mencari? Kita bersama-sama yuk, cek sesuai dengan apa yang kamu inginkan dan kamu kuati secara nilai”
Aku menangis dibuatnya. Aku tidak menyangka, kemarahan Mas Biyya dengan secepat itu teredam. Kini, aku bersama Mas Biyya, kita mencari satu per satu. Melihat kerja keras Mas Biyya, aku pun menjadi ingin mengambil jurusan tata boga sesuai dengan arahan Bapak dan Mas Biyya. Kali ini aku menurut. Aku menurut dengan pilihan Mas Biyya. Aku yakin, Mas Biyya lebih memahami semuanya.
