Mas Biyya, sejak saat ia menerima kotak dan pesan dari Bapak, ia terlihat sangat termotivasi untuk mengejar asa Bapak. Seakan ia ingin membuktikan bahwa anak laki-laki pertamanya akan mewujudkan mimpi dan harapan Bapak. Bagaimana tidak, hari-harinya kini diisi dengan segala hal positif dan juga belajar untuk persiapan beasiswa.
Kuliahnya kini masuk di semester tujuh, kata orang semester yang penuh dengan ujian. Pun yang saat ini dirasakan oleh Mas Biyya. Ditengah kesibukannya meraih harapan Bapak, berkas skripsinya sedang terbengkalai. Entah apa yang menjadi alasannya. Mas Biyya sesekali terlihat kalut atas apa yang mendera dirinya.
"Semester akhir memang semester penuh cobaan", kata Mas Biyya dengan penuh emosi dibalik telepon. Tidak pernah sekalipun aku mendengar Mas Biyya mengatakan demikian. Biasanya, ia selalu antusias dan semangat dalam meraih asanya.
"Bu, skripsi Biyya sudah hampir selesai, hanya karena skor hasil penelitiannya kurang memenuhi, akhirnya Biyya terpaksa mengulang turun lapangan", lanjut Mas Biyya dengan nada penuh penekanan emosi. Ia takut akan kegagalan menerpa dirinya. Bisa dibilang, ia pengecut. Pengecut dengan peluang kegagalan.
"Mas, mengulang bukan berarti gagal dalam perjuangan Mas. Ibu berharap Mas Biyya selalu semangat dalam perjuangan." Ibu memberikan nasihat dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. "Mas Biyya, dalam kehidupan dewasa, kita harus siap menerima apapun yang hadir dalam hidup kita, masalah ataupun bahagia, suka dan juga duka. Perlu mas ketahui, datangnya masalah bisa dari berbagai sudut mata angin mas, yang bisa Mas Biyya lakukan adalah berusaha untuk tegar melawannya", begitulah Ibu yang selalu berfikir positif atas keluhan apapun dari anak-anaknya.
Ibarat psikolog, sepertinya akulah yang paling sering menghampiri Ibu menyampaikan segala hal keluh kesahku. Kemudian Mas Biyya, berhati cukup keras sehingga ketika gagal menghadang, ia langsung naik pitam. Namun, tidak dengan Arsa. Aku akui, dia tipe anak dengan hati dan mental yang kuat. Ia selalu bisa memecahkan masalahnya dengan cara dia. Pikirannya jernih dan netral. Sepertinya, aku sering menghampiri Arsa hanya sekedar meminta pendapat untuk mengambil keputusan.
Kali ini, aku mendapatinya sedang sumringah, senyumnya merekah dan sangat semangat untuk mempersiapkan dirinya memasuki kuliah. Bagaimana tidak, impiannya dan impian Bapak kini berhasil ia wujudkan. Arsa, memulai kehidupan barunya di Arsitektur ITB, ia berhasil lolos jalur undangan. Hebat dan beruntungnya anak itu.
"Mbak, terima kasih ya mbak sudah memberikan aku support, dan Arsa akan selalu support Mbak Dista", ia menghampiri kamarku untuk menyampaikan kalimat itu. "Mbak, aku yakin tahun ini mbak bisa mendapatkan apa yang Mbak Dista harapkan, menjadi seorang sastrawan". Kalimat-kalimatnya selalu berhasil menenangkanku.
Bulan depan ialah giliranku untuk berjuang. Berjuang meraih asa masa depan. Kali ini, aku tidak boleh gagal. Kali ini, aku harus serempak dengan pencapaian Mas Biyya dan Arsa. Dengan segala ikhtiar dan doa, selebihnya aku pasrah.
Mungkin, orang bilang bahwa aku terlalu egois. Tetap bersikukuh dengan pendirian awal meskipun sudah ditolak beberapa kali. Dua, tiga, ya empat kali. Aku menghitung dalam hati. Percobaan kelima, dengan segala harap dan cemas, semoga apa yang aku semogakan dapat terwujudkan.
Tepat pada hari ini, aku, Mas Biyya, Arsa dan Ibu, seperti memiliki hidupnya masing-masing. Kami fokus dengan apa yang kami targetkan untuk mewujudkan semuanya. Satu demi satu, pesan-pesan Bapak akan terurai. Aku penasaran dengan apa yang ada di benak Bapak. Aku penasaran apakah ada kelanjutan kisah yang sedang Bapak rencanakan. Andai Bapak masih ada, pasti aku menanyakan ini semua. Terutama tentang pilihan tata boga.
"Dista, maaf Ibu minta tolong nak", tiba-tiba Ibu menghampiriku yang sedang asyik merapikan berkas. "kenapa Bu?", tanyaku kepada Ibu. "Ini, Ibu ada pesanan cathering lumayan banyak untuk acara balai desa, kalo kamu ada waktu, minta tolong bantuin Ibu ya buat masak-masaknya". Ibu adalah sosok luar biasa, terlebih setelah Bapak tiada. Ia penuh perjuangan agar dapur tetap ngebul dan anak-anak tetap bersekolah.
Bergegas aku selesaikan penataan berkas-berkasku dan segera menghampiri Ibu di dapur. Ibu mengajarkanku tentang resep-resep dan cara pengolahan masakan. Bukan kali pertama, namun sudah lama aku tidak pernah melakukan hal ini. Sebenarnya aku suka memasak. Beberapa orang bilang masakanku enak dan beberapa kali menjual makanan pre-order pun selalu habis. Selama setahun terakhir, itulah kegiatan kecilku. Memasak masakan yang viral seperti mentai, pizza mini, dan sebagainya.
Sedikit demi sedikit kami selesaikan pesanan masakan diselingi dengan gurauan dan obrolan, membuatku tidak sadar akan waktu. Empat jam berlalu, semua tinggal finishing, sebagian perlu digoreng. Setidaknya, proses meracik sudah selesai. Aku sangat menikmati memasak, apalagi jika saat koreksi rasa tidak sesuai, seketika langsung ingin ku ulang dan cari tau apa yang salah. Selepas semua pesanan selesai, kemudian pesanan cathering diantarkan Dek Arsa.
Setelah semuanya selesai, akupun melanjutkan membereskan semua berkas. Dek Arsa juga melanjutkan packingnya untuk merantau ke Bandung dibantu dengan Mas Biyya untuk mencarikan kosnya disela bimbingan skripsinya. Ibu, masih fokus menjadi seorang Ibu hebat dengan berbisnis. Aku, Mas Biyya dan Dek Arsa, kita selalu riuh di grup pesan tentang Ibu. Sejujurnya, kami merasa kasihan dengan Ibu sepeninggal Bapak.
"Arsa, kalo sudah di Bandung sering-sering kasih kabar sama Ibu ya nak. Kabarin kalau disana kamu perlu sesuatu hal, sampaikan", Ibu menatap lekat mata Dek Arsa, seperti ada perasaan khawatir seorang Ibu akan ditinggalkan oleh anaknya. Arsa, seseorang yang selalu dekat dan tidak pernah jauh dengan Ibu.
"Bu, Arsa janji bakal kasih Ibu kebanggaan. Arsa akan berusaha untuk mandiri Bu. Pokoknya kalo Ibu ada apa-apa, butuh teman cerita, tolong sampaikan ke Arsa ya Bu", baru kali ini aku melihat keharuan mendalam Arsa dengan Ibu. Arsa memang panutan, meskipun dia paling muda namun ia mampu memberikan contoh untuk aku dan semuanya dengan pemikiran-pemikiran logisnya. Kembali lagi, aku berharap bisa di posisi seperti Arsa sekarang ini.
