Wednesday, 5 April 2023

Project Besar Bapak #3

 




“Dis, kita diskusi sebentar yuk, ajak Arsa juga”, begitulah pesan singkat Mas Biyya kepadaku bersamaan dengan tautan video conference. Akupun masuk ke dalam video conference yang Mas Biyya buat.


“Hai Mas Biyya, kenapa nih kok mendadak gini?”, celetuk Arsa.


“Sejak diperjalanan ke Bandung sampai sekarang, aku masih kepikiran sama kotak yang Bapak kasih ke kita. Kalian merasa gitu ngga sih? Aku kok masih belum ngerti apa maksud Bapak. Kalian gimana?”


“Iya sih mas, aku juga masih belum ngerti maksud Bapak apaan”, jawabku, “mungkin kenang-kenangan”


“eh tunggu Mas Biyya, Mba Dista, ini di kotak kan ada kasetnya. Mungkin inilah clue dari Bapak. Gimana kalo kita setel kasetnya?”, sahut Arsa. Kamipun sepakat dengannya. Masing-masing kotak memiliki kaset, bisa jadi satu kaset untuk satu orang.


“Oke, kalo begitu kita tonton kaset ini kemudian kita lanjutkan diskusinya yaaa”, Mas Biyya menjelaskan. Aku dan Dek Arsa pun mengangguk sambil memutar kaset di PC dan laptop masing-masing. Kamipun penasaran dibuatnya. Kami termenung. Mendengarkan dan menonton video ini dengan seksama. Ternyata kaset ini adalah kumpulan foto dan video masa kecil kami. Memori yang indah bersama Bapak. Akupun menangis. Rindu. Kemudian, dilanjutkan dengan video singkat Bapak saat sedang dirawat di Rumah Sakit beberapa waktu yang lalu.


****

Hai Mbak Adista.

Sehat kau nak?

Bisa jadi, saat kamu menonton video ini, Bapak sudah tidak lagi disamping kamu. Jika benar adanya, Bapak minta maaf karena belum bisa menepati janji Bapak untuk terus menemani dewasa kalian. Bapak sepenuhnya yakin dan percaya, ada atau tidak adanya Bapak, Adista tetap menjadi wanita yang berbudi pekerti baik. Meski tiadanya Bapak di samping Adis, doa dan keridhoan Bapak akan tetap berada disisimu untuk menemani langkah mudamu.


Mbak Adista, apakah sudah membaca pesan Bapak?


Jika sudah, mohon pertimbangkan apa yang menjadi isi surat itu. Perkara Pendidikan, perempuan harus berpendidikan tinggi. Bapak mendukung itu. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika Mbak Adista mengambil jurusan keterampilan karena ke depannya, ilmu itu dapat kamu gunakan dalam berwirausaha. Belajarlah dengan Ibu tentang manajemen dan bertanyalah kepada Mas Biyya tentang marketing dengan model terbaru.


Sekali lagi, mohon dipertimbangkan. Mungkin ini terkesan kurang nyaman di telinga Mbak Adis, namun Bapak ingin memberikan arahan terakhir untuk Mbak Adis. Namun, apapun itu yang menjadi pilihan Mba Adis, Bapak akan tetap mendukung. Semangat selalu anak perempuanku. Segala hal kesulitan yang kamu temui haruslah dihadapi. Jadilah pribadi tangguh.

****

Video berdurasi 10 menit ini seketika membuatku menangis. Air mata tak terbendung saat melihat Bapak menyampaikan pesan dengan suara bergetar menahan rasa sakitnya. Bapak ialah manusia hebat. Bahkan, disaat terbaring lemah, ia tetap menyempatkan untuk membuat pesan singkat kepada anak-anaknya.


Aku melihat Mas Biyya dan Dek Arsa di layar monitor. Nampak mereka tengah menyeka air matanya. Mungkin, kita sedang merasakan hal yang sama saat ini. Hingga beberapa waktu kemudian, kami masih saja terdiam. Merenungi maksud dari ucapan Bapak.


“Mas, Mbak, ayok kita wujudin mimpi Bapak”, ajak Dek Arsa kepada kami.


“Ayok”, Mas Biyya bersemangat. “Nanti Mas Biyya buatin grup pesan, segala proses dan kendala sampaikan di grup. Kita bareng-bareng untuk mewujudkan masa depan kita masing-masing. Saling bergenggam dan berkabar ya adek-adek”, kemudian video conference dimatikan dan berlanjut dengan pesan di media sosial.


Mas Biyya create a group “Project Besar Bapak


Seketika grup menjadi riuh. Mas Biyya dan Dek Arsa nampak sangat antusias untuk mewujudkan mimpi-mimpi Bapak. Masing-masing saling menyampaikan rencana untuk mencapai segala asanya. Mas Biyya sangat semangat untuk terus berusaha mengejar beasiswa di luar negeri. Dek Arsa, ia sedang mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi Perguruan Tinggi Negeri jalur rapor dengan jurusan rekomendasi Bapak, yakni arsitektur. Aku rasa, mereka mampu mengejar ambisi dan harapan Bapak, kecuali aku.


Aku seringkali merasa tidak bisa mengimbangi langkah Mas Biyya, mungkin juga Dek Arsa. Rasanya, lebih banyak kegagalan yang datang dibandingkan kemujuran. Beda halnya dengan Mas Biyya, aku melihat bahwa dalam urusan sekolah Mas Biyya selalu menjadi yang terbaik. Sedangkan aku, kegagalan menimpaku bertubi-tubi hingga akhirnya satu tahun ini aku jeda masuk perguruan tinggi.


Ingatanku pada kegagalan kembali terkenang. Terbang pada lini masa setahun silam. Jika boleh jujur, aku cukup keberatan dengan misi yang harus aku laksanakan. Aku sangat tertarik untuk masuk ke sastra, sedangkan Bapak menghendaki aku untuk masuk ke jurusan tata boga. Aku bergumam, apakah aku harus mengubur cita-citaku?


“Dis, boleh Ibu masuk kamarmu?”, akupun membuka pintu kamar dan terlihatlah mata sembabku di hadapan Ibu.


“Mba Adis, kamu beneran engga papa nak? Apakah sakit?”, Ibu menanyakannya dengan khawatir. Aku memeluk Ibu erat-erat.


“Bu, ajari aku agar dapat menjadi seperti seorang Ibu. Aku ingin menjadi seorang yang tegar.


“Kamu kenapa Mba? Cerita sama Ibu yuk”


“Bu, perihal pesan Bapak ke Adis sepertinya aku belum dapat memenuhinya Bu. Ibu tahu kan kalo aku ingin masuk ke sastra? Ibu juga masih ingatkan, kalo aku masih saja belum mendapatkan panggilan kuliah hingga sekarang. Bu, berikan alasan kuat kenapa Bapak memintaku untuk masuk ke jurusan tata boga Bu”, rengekku kepada Ibu.


“Dis,Bapak memberikan rekomendasi demikian bukan tanpa sebab, bukan juga tanpa alasan. Dista tau kan Bapak tipe yang bagaimana?”, ibu mulai menjelaskan, “Dista, semua pilihan dan keputusan tetap kembali kepada kamu, Bapak tidak memaksakan kehendak.”


“Tapi Bu?”


“Dista, Ibu memilih Bapak kamu untuk menjadi suami saat itu karena Ibu melihat pola pikirnya yang luas dan tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak semestinya diperdebatkan. Bapak itu, bisa melihat dengan pandangan yang luas setiap permasalahan yang datang. Bapak, seorang pengamat ulung dan seorang planner hebat. Makanya, di awal pernikahan Bapak meminta Ibu untuk tetap mengamati tumbuh kembang kalian, anak-anaknya. Setiap hari, Bapak selalu menanyakan tentang belajar apa dan apa progresnya. Pengamatan Bapak terjadi dari kamu bayi hingga tumbuh besar. Mungkin Bapak kamu itu tipe orang yang cenderung diem, tapi sejatinya Bapak adalah orang yang paling perhatian tentang tumbuh kembang dan masa depan anak-anaknya. Begitulah Dista, Bapak berani memberikan arahan, karena Bapak melihat bahwa kamu memiliki bakat di dunia memasak, makanya Bapak mau kamu masuk kuliah dan ambil jurusan tata boga.”


Aku terdiam. Lagi-lagi merenung. Sebegitu pedulinya Bapak kepada anak-anaknya. Aku memang senang memasak dan beberapa teman mengatakan masakanku enak. Bagiku, memasak bukan hal sulit, cukup pakai kira-kira saja. Lagi-lagi Bapak berucap tidak dengan tanpa alasan. Logis. “Aku pikir ulang ya Bu, terima kasih Bu”, Ibu tersenyum lalu keluar dari kamarku. Tuhan, pilihan apa yang harus aku ambil?



(Bersambung)

Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.

#5CC #5CC18 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Artikel Terkait

Project Besar Bapak #3
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email