Kedukaan dan rasa kehilangan masih
bersemayam di rumah ini. Teras belakang rumah kini nampak kosong, tak seperti
biasanya. Terkadang, bayang imaji menghadirkan Bapak duduk sambil baca koran
dan ditemani secangkir tah panas buatan Ibu. Rindu. Ruang tengah yang biasanya
riuh, kini menjadi kaku. Hening. Mas Biyya, si usil yang sekarang mendadak jadi
diam, demikian Dek Arsa. Sesekali, aku masih menganggap bahwa Bapak masih bersama
kami, seperti pada hari-hari sebelumnya ketika Bapak menyibukkan diri di kebun
belakang rumah kami.
Mas Biyya, sibuk membuka lembaran
foto masa kecil kami. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin memorinya sedang
berputar dalam sadar. Sementara Dek Arsa, sedang menyibukkan diri dengan
menggambar untuk meluapkan pikirannya. Semuanya sedang tenggelam dalam
kehilangan. Aku, Mas Biyya dan Dek Arsa, namun tidak dengan Ibu.
Seminggu sudah kepergian Bapak,
namun tamu masih saja banyak. Terlihat Ibu sedang menemui teman-teman Bapak
dengan senyum yang merekah. Sebegitu tegarnya wanita itu. Kehilangan suami yang
selalu menemani ialah hal berat untuk dilalui. Bahkan, Ibu masih sabar melayani
pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana Bapak tiada. Bagiku,
pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang tepat untuk dipertanyakan kepada
keluarga yang sedang berduka. Meskipun demikian, Ibu masih bisa menjelaskan
dengan sabar setiap pertanyaan.
Aku melihat dari jauh para tamu silih
berganti untuk pamit. Bergegas aku ke dapur dan mengambil pudding di dalam lemari
es. Sengaja aku buatkan untuk dapat mencairkan suasana yang sedang dilanda
nestapa. “Heeeeiii, pada bengong nih, puding manga dan es buah by me!”,
teriakku dari dapur untuk memecah keheningan dan dilanjutkan dengan suara
hentakan kaki berlari Mas Biyya dan Dek Arsa. Seperti yang aku duga, mereka
berebut. “Ternyata bengong bisa bikin laper juga yaaaa”, ejekku kepada mereka.
“Mas Biyyaaaa, ini potongan
pudingku!!!”, Dek Arsa dan Mas Biyya masih terus berebut. Aku hanya tertawa
melihat tingkah konyol mereka.
“Ada apa ini rame sekali”, Ibu
menghampiri kami yang tengah gaduh di meja makan dapur.
“Ini lho Bu, Mas Biyya ambil
jatah pudingkuuuu!”
“Enak ajaaa, kamu kan udah ambil
duaaa, ini jatahku!”
Begitulah seterusnya, ramai. Hal
ini yang aku rindukan seminggu belakangan. Suara-suara keributan masih terus
bersahutan. Kalo Bapak disini pasti akan keluar suara, “heee heeee, kayak
lagi di hutan rimba”. Ibu juga tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Harapanku, keluarga ini tetap menjadi keluarga yang hangat meski tanpa sosok Bapak
disamping kami.
“Bu, kotak apa itu?”, tanyaku
saat melihat Ibu membawa kotak yang diambil dari meja kerja Bapak.
“Sini sebentar kita berkumpul yuk
di tengah”, jawab Ibu penuh senyum.
Ruang tengah seketika hening
kembali. Mendengarkan dengan seksama apa yang Ibu sampaikan. Kamipun penasaran denga
napa yang ada di balik kotak itu.
“Jadi, sebelum meninggal Bapak nitip
pesan ke Ibu untuk disampaikan ke kalian. Didalam kotak ini terdapat tiga kotak
dan masing-masingnya memiliki nama. Setelah ini, ambil kotaknya sesuai dengan
nama kalian”, jelas Ibu.
Kami bertigapun mengambil kotak
sesuai dengan arahan Ibu. Dengan hati-hati dan penasaran, kami membuka kotak
itu secara perlahan. Semuanya sama. Ada amplop berisikan surat, pulpen dan buku
agenda serta kaset. Jujur, aku masih belum paham apa yang harus aku lakukan dengan
isi kotak ini.
“Dibaca perlahan isi surat
tersebut ya nak, karena itulah harapan Bapak. Wasiat. Apapun yang tertulis disana,
Ibu yakin anak-anak Ibu pasti akan bisa menerima tantangan dari Bapak. Doa Ibu menyertai kalian dimanapun berada”, kalimat Ibu menenangkan kami.
Perlahan kami membaca isi pesan Bapak.
****
Adista Isvara, anak perempuanku satu-satunya.
Pertemuan pertamaku denganmu
adalah kebahagiaan yang tak terkira sekaligus tantangan yang besar bagi Bapak.
Membesarkan anak perempuan jauh lebih sulit dipandangan Bapak dibandingkan
dengan lelaki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu pikiran Bapak ternyata
salah. Dista tumbuh menjadi anak perempuan Bapak yang mandiri, kuat dan tangguh.
Mbak, dalam surat ini Bapak
berpesan bahwa apapun yang terjadi di depan, Adista harus tetap melanjutkan sekolah
ke jenjang yang lebih tinggi. Bapak melihat Adista hobi memasak dan memang
jago. Coba ditekuni lebih lagi, ambil kuliah jurusan masak. Bapak yakin, Adista
bisa menjadi sosok yang luar biasa di kemudian hari. Semangat nak!
****
Bapak selalu mengagumi
karya-karyamu. Kamu ahli dalam hal pewarnaan, membuat bayangan dan preposisi
gambar. Bapak selalu mengingatkan kepadamu nak, jadilah lelaki yang kuat dan
mandiri. Tetap asah karya-karyamu nak. Kejarlah segala mimpi dan harapanmu
untuk menjadi arsitek seperti yang kamu sampaikan tempo hari ke Bapak. Bapak
akan terus mendukungmu.
****
Abiyya Nawasena, sosok panutan arif
dan bijaksana.
Kelahiranmu adalah momen dimana Bapak
mengalami kebangkrutan usaha. Namun denganmu, Bapak berhasil bangkit lagi dari
keterpurukan keadaan. Kamu penyemangat Bapak. Bersama kamu, Bapak berani
melangkah lebih jauh, membuka mata lebih lebar. Keterpurukan berhasil Bapak
singkirkan. Biyya, kamu sosok yang pandai di perhitungan dan bisnis. Nampak
jelas, sejak kecil kamu hobi jualan, mulai dari printilan Tamiya, hingga isi
buku binder. Sepertinya, akan lebih baik lagi jika Mas Biyya bisa mengambil
beasiswa di luar negeri dan kuliah di bisnis internasional.
****
Kami saling memandang satu sama
lain. Baik aku, Mas Biyya dan Arsa, kami kaget akan pesan dan misi Bapak yang
akan berlanjut setelah ini.
“Bu, Biyya terlalu keberatan
dengan pesan Bapak. Bu, kali ini biarkan Biyya yang mengalah untuk masa depan
adik-adik Bu. Biyya akan bekerja Bu setelah lulus sidang ini”, Mas Biyya tidak
mungkin membiarkan Ibu mencari uang seorang diri untuk sekolah anak-anaknya.
“Mas, Ibu justru akan marah jika
kamu tidak menurut apa kata Bapak. Apa yang tercatat di pesan ini ialah harapan
Bapak kepada kalian, anak-anaknya. Tetap semangat dan terus belajar ya nak”,
kata Ibu dengan nada yang cukup tinggi.
Sejak saat itu, aku, Mas Biyya
dan Arsa, kami saling memberikan kabar dan membantu satu sama lain. Makin
merekatkan jalinan komunikasi internal agar dapat saling mengerti kondisi
masing-masing. Hal ini adalah hal baru untuk kami. Target baru dan semangat
baru. Kehadiran Bapak nampak terasa rupanya. Seperti halnya ada Bapak disamping
kami yang sedang memberikan tanggung jawab baru.
Selanjutnya, tiba saatnya Mas Biyya berpamitan untuk kembali ke perantauan di Bandung. Penuh semangat ia berusaha meyakinkan Ibu bahwa ia mampu seperti apa yang Bapak harapkan kepada kami. “Bu, Biyya berjanji akan memenuhi project besar Bapak ini”, kata Mas Biyya meyakinkan Ibu bahwa dirinya akan menetapi janji.
(bersambung)
nantikan kisah selanjutnya yaaa..
#5CC #5CC17 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass
.png)