Monday, 3 April 2023

Project Besar Bapak #2

 


Kedukaan dan rasa kehilangan masih bersemayam di rumah ini. Teras belakang rumah kini nampak kosong, tak seperti biasanya. Terkadang, bayang imaji menghadirkan Bapak duduk sambil baca koran dan ditemani secangkir tah panas buatan Ibu. Rindu. Ruang tengah yang biasanya riuh, kini menjadi kaku. Hening. Mas Biyya, si usil yang sekarang mendadak jadi diam, demikian Dek Arsa. Sesekali, aku masih menganggap bahwa Bapak masih bersama kami, seperti pada hari-hari sebelumnya ketika Bapak menyibukkan diri di kebun belakang rumah kami.


Mas Biyya, sibuk membuka lembaran foto masa kecil kami. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin memorinya sedang berputar dalam sadar. Sementara Dek Arsa, sedang menyibukkan diri dengan menggambar untuk meluapkan pikirannya. Semuanya sedang tenggelam dalam kehilangan. Aku, Mas Biyya dan Dek Arsa, namun tidak dengan Ibu.


Seminggu sudah kepergian Bapak, namun tamu masih saja banyak. Terlihat Ibu sedang menemui teman-teman Bapak dengan senyum yang merekah. Sebegitu tegarnya wanita itu. Kehilangan suami yang selalu menemani ialah hal berat untuk dilalui. Bahkan, Ibu masih sabar melayani pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana Bapak tiada. Bagiku, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang tepat untuk dipertanyakan kepada keluarga yang sedang berduka. Meskipun demikian, Ibu masih bisa menjelaskan dengan sabar setiap pertanyaan.


Aku melihat dari jauh para tamu silih berganti untuk pamit. Bergegas aku ke dapur dan mengambil pudding di dalam lemari es. Sengaja aku buatkan untuk dapat mencairkan suasana yang sedang dilanda nestapa. “Heeeeiii, pada bengong nih, puding manga dan es buah by me!”, teriakku dari dapur untuk memecah keheningan dan dilanjutkan dengan suara hentakan kaki berlari Mas Biyya dan Dek Arsa. Seperti yang aku duga, mereka berebut. “Ternyata bengong bisa bikin laper juga yaaaa”, ejekku kepada mereka.


“Mas Biyyaaaa, ini potongan pudingku!!!”, Dek Arsa dan Mas Biyya masih terus berebut. Aku hanya tertawa melihat tingkah konyol mereka.


“Ada apa ini rame sekali”, Ibu menghampiri kami yang tengah gaduh di meja makan dapur.


“Ini lho Bu, Mas Biyya ambil jatah pudingkuuuu!”


“Enak ajaaa, kamu kan udah ambil duaaa, ini jatahku!”


Begitulah seterusnya, ramai. Hal ini yang aku rindukan seminggu belakangan. Suara-suara keributan masih terus bersahutan. Kalo Bapak disini pasti akan keluar suara, “heee heeee, kayak lagi di hutan rimba”. Ibu juga tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Harapanku, keluarga ini tetap menjadi keluarga yang hangat meski tanpa sosok Bapak disamping kami.


“Bu, kotak apa itu?”, tanyaku saat melihat Ibu membawa kotak yang diambil dari meja kerja Bapak.


“Sini sebentar kita berkumpul yuk di tengah”, jawab Ibu penuh senyum.


Ruang tengah seketika hening kembali. Mendengarkan dengan seksama apa yang Ibu sampaikan. Kamipun penasaran denga napa yang ada di balik kotak itu.


“Jadi, sebelum meninggal Bapak nitip pesan ke Ibu untuk disampaikan ke kalian. Didalam kotak ini terdapat tiga kotak dan masing-masingnya memiliki nama. Setelah ini, ambil kotaknya sesuai dengan nama kalian”, jelas Ibu.


Kami bertigapun mengambil kotak sesuai dengan arahan Ibu. Dengan hati-hati dan penasaran, kami membuka kotak itu secara perlahan. Semuanya sama. Ada amplop berisikan surat, pulpen dan buku agenda serta kaset. Jujur, aku masih belum paham apa yang harus aku lakukan dengan isi kotak ini.


“Dibaca perlahan isi surat tersebut ya nak, karena itulah harapan Bapak. Wasiat. Apapun yang tertulis disana, Ibu yakin anak-anak Ibu pasti akan bisa menerima tantangan dari Bapak. Doa Ibu menyertai kalian dimanapun berada”, kalimat Ibu menenangkan kami.


Perlahan kami membaca isi pesan Bapak.

 

****

Adista Isvara, anak perempuanku satu-satunya.

Pertemuan pertamaku denganmu adalah kebahagiaan yang tak terkira sekaligus tantangan yang besar bagi Bapak. Membesarkan anak perempuan jauh lebih sulit dipandangan Bapak dibandingkan dengan lelaki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu pikiran Bapak ternyata salah. Dista tumbuh menjadi anak perempuan Bapak yang mandiri, kuat dan tangguh.


Mbak, dalam surat ini Bapak berpesan bahwa apapun yang terjadi di depan, Adista harus tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bapak melihat Adista hobi memasak dan memang jago. Coba ditekuni lebih lagi, ambil kuliah jurusan masak. Bapak yakin, Adista bisa menjadi sosok yang luar biasa di kemudian hari. Semangat nak!

 

****

 Arsa Birendra, jagoan Bapak yang suka menggambar.

Bapak selalu mengagumi karya-karyamu. Kamu ahli dalam hal pewarnaan, membuat bayangan dan preposisi gambar. Bapak selalu mengingatkan kepadamu nak, jadilah lelaki yang kuat dan mandiri. Tetap asah karya-karyamu nak. Kejarlah segala mimpi dan harapanmu untuk menjadi arsitek seperti yang kamu sampaikan tempo hari ke Bapak. Bapak akan terus mendukungmu.

 

****

Abiyya Nawasena, sosok panutan arif dan bijaksana.

Kelahiranmu adalah momen dimana Bapak mengalami kebangkrutan usaha. Namun denganmu, Bapak berhasil bangkit lagi dari keterpurukan keadaan. Kamu penyemangat Bapak. Bersama kamu, Bapak berani melangkah lebih jauh, membuka mata lebih lebar. Keterpurukan berhasil Bapak singkirkan. Biyya, kamu sosok yang pandai di perhitungan dan bisnis. Nampak jelas, sejak kecil kamu hobi jualan, mulai dari printilan Tamiya, hingga isi buku binder. Sepertinya, akan lebih baik lagi jika Mas Biyya bisa mengambil beasiswa di luar negeri dan kuliah di bisnis internasional.

 

****

Kami saling memandang satu sama lain. Baik aku, Mas Biyya dan Arsa, kami kaget akan pesan dan misi Bapak yang akan berlanjut setelah ini.


“Bu, Biyya terlalu keberatan dengan pesan Bapak. Bu, kali ini biarkan Biyya yang mengalah untuk masa depan adik-adik Bu. Biyya akan bekerja Bu setelah lulus sidang ini”, Mas Biyya tidak mungkin membiarkan Ibu mencari uang seorang diri untuk sekolah anak-anaknya.


“Mas, Ibu justru akan marah jika kamu tidak menurut apa kata Bapak. Apa yang tercatat di pesan ini ialah harapan Bapak kepada kalian, anak-anaknya. Tetap semangat dan terus belajar ya nak”, kata Ibu dengan nada yang cukup tinggi.


Sejak saat itu, aku, Mas Biyya dan Arsa, kami saling memberikan kabar dan membantu satu sama lain. Makin merekatkan jalinan komunikasi internal agar dapat saling mengerti kondisi masing-masing. Hal ini adalah hal baru untuk kami. Target baru dan semangat baru. Kehadiran Bapak nampak terasa rupanya. Seperti halnya ada Bapak disamping kami yang sedang memberikan tanggung jawab baru.


Selanjutnya, tiba saatnya Mas Biyya berpamitan untuk kembali ke perantauan di Bandung. Penuh semangat ia berusaha meyakinkan Ibu bahwa ia mampu seperti apa yang Bapak harapkan kepada kami. “Bu, Biyya berjanji akan memenuhi project besar Bapak ini”, kata Mas Biyya meyakinkan Ibu bahwa dirinya akan menetapi janji.


(bersambung)

nantikan kisah selanjutnya yaaa..

#5CC #5CC17 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass

Artikel Terkait

Project Besar Bapak #2
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email