Tuuuut….tuuut… (suara
telepon berdering)
“Bu, Bapak minta ditemenin di
kamar Bu, sepertinya ada yang mau disampaikan. Oh iya, Mas Biyya belum ada jawaban
Bu?”, ibu hanya menggelengkan kepala pertanda belum ada jawaban dari Mas Biyya.
“Biarkan Adis yang gentian telepon
Mas Biyya ya Bu, Ibu tenangin diri dan temui Bapak”, ibu bergegas menemani
Bapak yang sedang istirahat di kamar.
Tuuuutt... “Haloooo Dis..”
“Mas Biyya, alhamdulillah,
Mas, Bapak sakit Mas sejak kemarin, Mas Biyya pulang ya Mas, Ibu daritadi
telepon Mas Biyya, pulang ya Mas, kami tunggu”
“Bapak sakit? I..iyyaaaa Dis, Mas
pulang sore ini”, suara Mas Biyya terdengar bergetar mendengar kabar ini.
Akupun bergegas menyiapkan makan siang untuk Bapak, bubur ayam spesial favorit Bapak dengan bawang goreng dan suwiran ayam, apalagi disajikan hangat. “Semoga Bapak lekas sembuh”, doaku di atas mangkok bubur ayam ini.
Aku menghampiri Ibu, meletakkan bubur ayam. Sigap, Ibu menerimanya dan menyuapi Bapak perlahan. Nampak sekali ketulusan terpancar. Pengabdian Ibu untuk suaminya memang tiada tanding. Aku memandangi keduanya dari kejauhan, menatap sekilas Bapak dan Ibu, aku berharap keselamatan dan kesehatan selalu menyertainya.
Refleks, air mata menetes. Rasanya, tidak kuat melihat Bapak berbaring lemah di atas ranjang. Bapak, sosok yang selalu ceria dengan segala candaannya, kini lemah tak berdaya.
Di samping kamar, terdapat meja dan lemari foto. Berjejer beberapa foto masa kecil kami. Sesekali aku tersenyum, Bapak memang selalu memiliki cara untuk mengajak kami bermain dan bahagia. Gambaran-gambaran yang penuh dengan kenangan terbingkai dengan apik dan resik di atas meja ini.
“Mbaaaak”
“Dek Arsa, bagaimana ujianmu hari ini Dek?”
“Mbak, aku kepikiran Bapak selama mengerjakan ujian hari ini, Bapak gimana Mbak kabarnya?”, ialah Arsa, adikku, meskipun lelaki ia memiliki jiwa kasih yang tinggi, apalagi kalau hubungannya dengan Bapak. Akhir-akhir ini, Bapak memang sedang dekat dengan Arsa untuk menemani belajar dan menyemangatinya menuju ujian akhir sekolah. Itulah yang dilakukan Bapak kepada kami, anak-anaknya.
“Enggak apa-apa Dek, kamu tenang saja, insyaallah semuanya akan membaik, kita doakan yang terbaik ya Dek”, jawabku menenangkan Arsa, sambil saling menggenggam untuk saling menguatkan.
“Mbak, Mas Biyya sudah tau kondisi Bapak”
“Mas Biyya sudah mbak telpon tadi, sore ini perjalanan dari Bandung, mungkin malam nanti sampe Semarang. Minta tolong nanti jemput Mas Biyya ya dek di Stasiun Tawang.”
Mas Biyya dan Dek Arsa, mereka adalah lelaki dengan postur tegap dan tegas namun keberhasilan didikan Bapak mampu menghadirkan jiwa kasih kepada anak-anaknya. Mas Biyya, sosok kakak lelaki yang disegani banyak orang, tutur katanya sopan, ketegasannya jangan ditanya, ia sangat disiplin dan rapih. Setiap hari wangi. Tak heran, kalau jalan di mall Mas Biyya seringkali ditawari SPG mobil untuk sekedar mampir melihat unit.
Dek Arsa, belum terlalu nampak seperti Mas Biyya, namun sosok Dek Arsa adalah anak yang riang dan ceria, hidupnya suka dengan ketenangan dan kedamaian. Jiwanya sangat welas asih. Senang membantu sesama. Kalau sudah melukis atau menggambar, Dek Arsa semacam semedi dan tidak bisa diganggu gugat. Lagi-lagi, Bapak berhasil mendidik Dek Arsa menjadi sosok anak mandiri dan berbakat dalam beberapa hal tentang kreasi dan kesenian.
“Bu, gantian Arsa yang nemenin Bapak, Ibu istirahat dulu Bu”, aku mendengar Arsa menyelinap di kamar Bapak sambil memijit tengkuk Ibu yang sedari tadi duduk menemani Bapak.
Kring Kring (notifikasi pesan)
“otw”, pesan singkat dari Mas Biyya
yang tengah dalam perjalanan.
“Mbak, Mas Biyya sudah angkat
telepon? Sudah dikabari kondisi Bapak?”, tanya Ibu kepadaku.
“Sudah Bu, Mas Biyya di perjalanan
Bu, keretanya baru saja jalan”, jawabku.
“Alhamdulillah”, dengan muka
pucat Ibu bergegas mengambil wudhu, terlihat sekali kekhawatiran di raut muka
Ibu yang sebelumnya tidak pernah sedemikian khawatirnya.
***
“Assalammu’alaikum”, terdengar
suara Mas Biyya seraya masuk ke rumah dan mencari Bapak.
Mas Biyya sudah berada di rumah. Bergegas
ia bersih-bersih badan dan langsung melihat kondisi Bapak di kamar. Kami
berempatpun berkumpul di kamar, memberikan semangat agar Bapak segera sembuh
seperti sebelumnya.
“Biyyaaa, sini nak”, wajah Bapak
berbinar melihat kedatangan Mas Biyya. “Iya Pak, ini Biyya sudah pulang, Bapak sehat-sehat
ya Pak. Biyya disamping Bapak sekarang”, Bapak tersenyum dan melanjutkan pembicaran
dengan nafas pendek, "Bi... Bapak pesen.. kamu.. anak pertama Bapak.. terus
jaga adekmu..ibumu, sekolah yang tinggi.. bantu adekmu juga.. Bapak bangga sama
kamu.. Bapak yakin kamu bi.. bisa.. bijaksana..”, Mas Biyya menangis dan
memeluk Bapak, begitu juga aku dan Arsa. Ibu, memilih keluar kamar dan menangis
disana. “Pak, Bapak sembuh kok, kami selalu disini nemenin Bapak, Biyya janji akan
lulus tepat waktu Pak dan segera bantu ibu dan adek-adek”.
Aku keluar, menemani Ibu yang
sedang berdiri di balik dinding kamar sembari menahan air mata untuk tidak
terjatuh. Aku memeluk Ibu erat. Seketika, bendungan air mata tidak lagi
tertahankan. Air matanya mengalir deras saat Bapak memberikan kalimat “nitip Ibu
dan adekmu” kepada Mas Biyya. Mendengar kalimat itu, pikiranku melayang.
Memohon hal buruk tidak terjadi kepada Bapak.
“Mas Biyya dan Arsa, sini nak, bacakan
Bapak Ar Rahman”, suara Bapak lirih. Mas Biyya dan Dek Arsa pun mulai mengaji keinginan
hati Bapak.
Sehari ini pun berlalu. Bapak
sudah menyampaikan apa yang diharapkannya. Bapak sudah bahagia melihat anak-anaknya
berkumpul bersama di rumah sederhana ini. Aku, sangatlah bersyukur dilahirkan
di dunia ini. Keluarga yang sangat menjunjung rasa kebersamaan dan
kekeluargaan.
“Bu, Bapak sudah tidur Bu”, Mas
Biyya keluar dari kamar dengan suara payau, begitupun Dek Arsa.
Mas Biyya dan Dek Arsa, memeluk kami dengan erat. Kami
berempat tenggelam dalam air mata. Terlalu banyak hal baik yang Bapak berikan
kepada keluarga ini. Bersama dengan Bapak, segala hal masalah memiliki solusi.
Bersama Bapak, ketakutan berubah menjadi keberanian.
Akan tetapi kali ini, Bapak sudah
memberikan kepercayaannya kepada kami. Mulai hari ini, Bapak memberikan amanah
peran baru kepada anak-anaknya. Kini, saatnya Bapak beristirahat panjang dengan
penuh ketentraman.
(bersambung...)
