Sunday, 2 April 2023

Project Besar Bapak #1

 


Tuuuut….tuuut… (suara telepon berdering)


“Bu, Bapak minta ditemenin di kamar Bu, sepertinya ada yang mau disampaikan. Oh iya, Mas Biyya belum ada jawaban Bu?”, ibu hanya menggelengkan kepala pertanda belum ada jawaban dari Mas Biyya.


“Biarkan Adis yang gentian telepon Mas Biyya ya Bu, Ibu tenangin diri dan temui Bapak”, ibu bergegas menemani Bapak yang sedang istirahat di kamar.


Tuuuutt... “Haloooo Dis..”


Mas Biyya, alhamdulillah, Mas, Bapak sakit Mas sejak kemarin, Mas Biyya pulang ya Mas, Ibu daritadi telepon Mas Biyya, pulang ya Mas, kami tunggu”


“Bapak sakit? I..iyyaaaa Dis, Mas pulang sore ini”, suara Mas Biyya terdengar bergetar mendengar kabar ini.


Akupun bergegas menyiapkan makan siang untuk Bapak, bubur ayam spesial favorit Bapak dengan bawang goreng dan suwiran ayam, apalagi disajikan hangat. “Semoga Bapak lekas sembuh”, doaku di atas mangkok bubur ayam ini.


Aku menghampiri Ibu, meletakkan bubur ayam. Sigap, Ibu menerimanya dan menyuapi Bapak perlahan. Nampak sekali ketulusan terpancar. Pengabdian Ibu untuk suaminya memang tiada tanding. Aku memandangi keduanya dari kejauhan, menatap sekilas Bapak dan Ibu, aku berharap keselamatan dan kesehatan selalu menyertainya.


Refleks, air mata menetes. Rasanya, tidak kuat melihat Bapak berbaring lemah di atas ranjang. Bapak, sosok yang selalu ceria dengan segala candaannya, kini lemah tak berdaya.


Di samping kamar, terdapat meja dan lemari foto. Berjejer beberapa foto masa kecil kami. Sesekali aku tersenyum, Bapak memang selalu memiliki cara untuk mengajak kami bermain dan bahagia. Gambaran-gambaran yang penuh dengan kenangan terbingkai dengan apik dan resik di atas meja ini.


“Mbaaaak”


“Dek Arsa, bagaimana ujianmu hari ini Dek?”


“Mbak, aku kepikiran Bapak selama mengerjakan ujian hari ini, Bapak gimana Mbak kabarnya?”, ialah Arsa, adikku, meskipun lelaki ia memiliki jiwa kasih yang tinggi, apalagi kalau hubungannya dengan Bapak. Akhir-akhir ini, Bapak memang sedang dekat dengan Arsa untuk menemani belajar dan menyemangatinya menuju ujian akhir sekolah. Itulah yang dilakukan Bapak kepada kami, anak-anaknya.


“Enggak apa-apa Dek, kamu tenang saja, insyaallah semuanya akan membaik, kita doakan yang terbaik ya Dek”, jawabku menenangkan Arsa, sambil saling menggenggam untuk saling menguatkan.


“Mbak, Mas Biyya sudah tau kondisi Bapak”


“Mas Biyya sudah mbak telpon tadi, sore ini perjalanan dari Bandung, mungkin malam nanti sampe Semarang. Minta tolong nanti jemput Mas Biyya ya dek di Stasiun Tawang.”


Mas Biyya dan Dek Arsa, mereka adalah lelaki dengan postur tegap dan tegas namun keberhasilan didikan Bapak mampu menghadirkan jiwa kasih kepada anak-anaknya. Mas Biyya, sosok kakak lelaki yang disegani banyak orang, tutur katanya sopan, ketegasannya jangan ditanya, ia sangat disiplin dan rapih. Setiap hari wangi. Tak heran, kalau jalan di mall Mas Biyya seringkali ditawari SPG mobil untuk sekedar mampir melihat unit.


Dek Arsa, belum terlalu nampak seperti Mas Biyya, namun sosok Dek Arsa adalah anak yang riang dan ceria, hidupnya suka dengan ketenangan dan kedamaian. Jiwanya sangat welas asih. Senang membantu sesama. Kalau sudah melukis atau menggambar, Dek Arsa semacam semedi dan tidak bisa diganggu gugat. Lagi-lagi, Bapak berhasil mendidik Dek Arsa menjadi sosok anak mandiri dan berbakat dalam beberapa hal tentang kreasi dan kesenian.


“Bu, gantian Arsa yang nemenin Bapak, Ibu istirahat dulu Bu”, aku mendengar Arsa menyelinap di kamar Bapak sambil memijit tengkuk Ibu yang sedari tadi duduk menemani Bapak.


Kring Kring (notifikasi pesan) 

“otw”, pesan singkat dari Mas Biyya yang tengah dalam perjalanan.


“Mbak, Mas Biyya sudah angkat telepon? Sudah dikabari kondisi Bapak?”, tanya Ibu kepadaku.


“Sudah Bu, Mas Biyya di perjalanan Bu, keretanya baru saja jalan”, jawabku.


“Alhamdulillah”, dengan muka pucat Ibu bergegas mengambil wudhu, terlihat sekali kekhawatiran di raut muka Ibu yang sebelumnya tidak pernah sedemikian khawatirnya.


***

“Assalammu’alaikum”, terdengar suara Mas Biyya seraya masuk ke rumah dan mencari Bapak.


Mas Biyya sudah berada di rumah. Bergegas ia bersih-bersih badan dan langsung melihat kondisi Bapak di kamar. Kami berempatpun berkumpul di kamar, memberikan semangat agar Bapak segera sembuh seperti sebelumnya.


“Biyyaaa, sini nak”, wajah Bapak berbinar melihat kedatangan Mas Biyya. “Iya Pak, ini Biyya sudah pulang, Bapak sehat-sehat ya Pak. Biyya disamping Bapak sekarang”, Bapak tersenyum dan melanjutkan pembicaran dengan nafas pendek, "Bi... Bapak pesen.. kamu.. anak pertama Bapak.. terus jaga adekmu..ibumu, sekolah yang tinggi.. bantu adekmu juga.. Bapak bangga sama kamu.. Bapak yakin kamu bi.. bisa.. bijaksana..”, Mas Biyya menangis dan memeluk Bapak, begitu juga aku dan Arsa. Ibu, memilih keluar kamar dan menangis disana. “Pak, Bapak sembuh kok, kami selalu disini nemenin Bapak, Biyya janji akan lulus tepat waktu Pak dan segera bantu ibu dan adek-adek”.


Aku keluar, menemani Ibu yang sedang berdiri di balik dinding kamar sembari menahan air mata untuk tidak terjatuh. Aku memeluk Ibu erat. Seketika, bendungan air mata tidak lagi tertahankan. Air matanya mengalir deras saat Bapak memberikan kalimat “nitip Ibu dan adekmu” kepada Mas Biyya. Mendengar kalimat itu, pikiranku melayang. Memohon hal buruk tidak terjadi kepada Bapak.


“Mas Biyya dan Arsa, sini nak, bacakan Bapak Ar Rahman”, suara Bapak lirih. Mas Biyya dan Dek Arsa pun mulai mengaji keinginan hati Bapak.


Sehari ini pun berlalu. Bapak sudah menyampaikan apa yang diharapkannya. Bapak sudah bahagia melihat anak-anaknya berkumpul bersama di rumah sederhana ini. Aku, sangatlah bersyukur dilahirkan di dunia ini. Keluarga yang sangat menjunjung rasa kebersamaan dan kekeluargaan.


“Bu, Bapak sudah tidur Bu”, Mas Biyya keluar dari kamar dengan suara payau, begitupun Dek Arsa.


Mas Biyya dan Dek Arsa, memeluk kami dengan erat. Kami berempat tenggelam dalam air mata. Terlalu banyak hal baik yang Bapak berikan kepada keluarga ini. Bersama dengan Bapak, segala hal masalah memiliki solusi. Bersama Bapak, ketakutan berubah menjadi keberanian.


Akan tetapi kali ini, Bapak sudah memberikan kepercayaannya kepada kami. Mulai hari ini, Bapak memberikan amanah peran baru kepada anak-anaknya. Kini, saatnya Bapak beristirahat panjang dengan penuh ketentraman.



(bersambung...)

#5CC #5CC16 #Bentangpustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Artikel Terkait

Project Besar Bapak #1
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email