Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

Friday, 7 April 2023

Project Besar Bapak #6


.

I.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tidak terasa empat tahun sudah melewati semua suka dan duka setelah kepergian Bapak. Sejak tidak ada Bapak, rumah menjadi banyak berubah. Hari ini semuanya berkumpul, merayakan momen kebersamaan dengan keluarga adalah hal terindah yang aku rasakan. Setelah sekian tahun hidup merantau di masing-masing tanah orang, sekarang akhirnya kita dapat berkumpul bersama seperti empat tahun silam.


“ayoooo kita makaaan, aku udah menyiapkan masakan spesial untuk kitaaaa”, seruku sambil mengeluarkan banyak makanan dari dapur ke meja tengah. Seperti biasa, Mas Biyya mulai rakus dengan puding mangga yang aku buat dilanjutkan baku hantam oleh Dek Arsa. Ibu pun tersenyum melihatnya. Semuanya, masih sama dengan empat tahun ke belakang.


“berebut teruuuuss, paten nih kalo ribut pasti karna puding mangga”, canda Ibu yang terlihat sangat senang anak-anaknya berkumpul bersama. Senyumnya merekah, makin menambah kecantikan alaminya. Aku sangat senang dengan keluarga ini. Saling penuh support dan motivasi satu sama lainnya.


“ayam bakarnya asliiii enak bangetttt!!!”, puji Mas Biyya.


“ini pizzanya ngga kalah uenaaaakkk mbak!!”, Dek Arsa pun samaaa.


“asli, beri hormat untuk koki kita! Ngga salah sih kemarin dapat beasiswa magang ke di salah satu hotel Singapore!!”, Mas Biyya dan Dek Arsa membungkukkan badan memberi hormat, “oke chef! nanti makan apa lagi kita?”, canda Dek Arsa.


“Terima kasih lho, ini semua juga berkat Mas Biyya dan juga Bapak yang memberikan arahan, juga Ibu dan Dek Arsa yang selalu membawa pom pom untuk menyemangatiku”, candaku.


Oh iya, waktu itu akhirnya aku memutuskan mengambil tata boga di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Berkat Mas Biyya, aku berhasil lulus disana dan belajar dengan penuh kebahagiaan. Mengapa tidak, ternyata pilihanku mengambil jurusan memasak bukan hal yang salah dan bukan juga hal yang membosankan. Aku merasa mendapatkan banyak keterampilan setelah sekolah dari sana, mulai dari kedisiplinan, kerapihan, penampilan serta ide kreatifitas yang harus terus diasah untuk menghasilkan masakan yang lezat.


“Mas Biyya, Mba Dista dan Dek Arsa, Ibu mau ngomong satu pesan dari Bapak”, kami terheran, pesan apalagi yang Bapak berikan ke kita. Seperti yang kita ketahui, semua anaknya sudah berhasil mewujudkan mimpi dan harapannya Bapak. Sejenak terdiam, kami saling memandang dan Ibu melanjutkan, “begini, ini ada video dari Bapak, kita tonton bersama dan disini juga ada kotak surat yang Ibu sendiri belum tau isinya apa”, kemudian Ibu meminta Dek Arsa untuk setel video Bapak.

******

Assalamualaikum, apa kabar semua? Sehat selalu kan?


Jika video ini sudah disetel, artinya Bapak harus mengucapkan Selamat kepada anak-anak Bapak yang sudah berhasil meraih gelar pendidikannya. Bapak sangat senang dan bangga sekali dengan pencapaian-pencapaian kalian. Bapak berharap, kalian mengikuti apa yang sudah Bapak sampaikan di video awal. 


Pesan Bapak sebelumnya bukanlah karena Bapak menebak atau memaksa Biyya, Dista dan Arsa. Bapak hanya melihat dari pengamatan Bapak dan dibantu dengan Ibu tentang tumbuh kembang anak-anak Bapak. Bapak mencatat setiap perubahan dan peningkatan di fase kehidupan kalian sehingga Bapak bisa menyimpulkan dan memberikan arahan serta pandangan di masa depan kalian.


Bapak paham betapa Biyya menyukai hal-hal yang berkaitan dengan wirausaha. Sejak kecil, Biyya senang sekali berbisnis seperti menjual kelereng yang laris manis dan jadi bandar kelereng. Kemudian pernah menjual gambar-gambar kartu ke teman-temannya dan masih banyak hal lainnya yang Bapak lihat arahnya Biyya ya ada di bidang bisnis. Apalagi, nilai matematika Biyya yang selalu menjadi nilai tertinggi, menjadikan Bapak yakin bahwa Biyya mampu untuk masuk ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis.


Bapak juga mengerti Adista, meskipun dia seorang yang cukup membantah dengan apa yang Bapak sampaikan kalau Adista ini nyawanya ada di masakan. Adista mungkin tidak percaya dengan apa yang Bapak sampaikan, namun jika boleh jujur rasanya masakan Dista adalah masakan terenak yang pernah Bapak rasakan. Bapak akan selalu kangen dengan masakan Dista, pasti. Oleh karenanya, Bapak berharap agar kamu bisa masuk ke dunia memasak, ambillah jurusan tata boga atau pariwisata di bidang memasak. Bapak yakin, pasti banyak yang mau beli masakan Dista nantinya.


Untuk anak Bapak yang paling bontot, Arsa. Kamu dari kecil hobinya mainan lego. Ketika udah agak gedean, kelihatannya kamu suka tentang dunia gambar. Bapak menikmati setiap goresan warna dan tinta yang kamu buat, Sa. Kamu juga pandai dalam membuat rancangan atau kamu yang sangat pensaran dengan gedung-gedung tinggi di ibu kota. Dari sanalah Bapak melihat kamu punya potensi untuk masuk ke dunia arsitektur. Bapak yakin kamu sangat bisa.


Bapak berharap, Mas Biyya bisa membantu adek-adeknya untuk mengembangkan bisnis mereka, ajarkanlah ke adek-adekmu ya Biyya. Mbak Dista juga, support Mas Biyya dan Dek Arsa jika mereka butuh bantuan dan supportnya. Dek Arsa, kamu juga support kakak-kakakmu ini yaaa barangkali ada kebutuhan-kebutuhan tentang desain rumah. Pokoknya, kalian semua kelak saling membantu dan support satu sama lain. Satu lagi, Bapak nitip Ibu ke kalian.


Mas Biyya, Mbak Dista dan Arsa, Bapak ada satu hal yang ingin Bapak sampaikan. Dalam pesan di kotak warna merah muda itu, terselip suatu alamat yang memang Bapak sengajakan untuk disimpan oleh Ibu hingga anak-anak Bapak sudah siap. Datanglah kesana dan pelajari seluk beluknya. Bapak yakin, kalian pasti bisa untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ini adalah project besar Bapak yang belum berhasil Bapak tunaikan. Bapak hanya berpesan itu pada kalian.


Sehat selalu dan salam.

*******

Kami termenung disepanjang perjalanan menuju alamat yang Bapak titipkan. Antara yakin atau tidak, kami hanya mengikuti apa yang ada di video ini. Aku, Mas Biyya, Dek Arsa dan Ibu, kami langsung bergegas ke tempat. Kami sama-sama tidak tahu menahu apa yang sebenernya terjadi.


Sesampainya ditempat, kami disambut oleh Pak Maman yang ternyata merupakan satpam di sebuah villa kecil di daerah dataran tinggi Dieng. Kamipun bingung dibuatnya. Villa ini cukup besar, unik dan elegan. Terlihat Ibu sangatlah akrab dengan Pak Maman, kemudian Ibu menyapa beberapa karyawan yang ada di villa ini.


“Ini Mas Biyya, Mbak Dista dan Mas Arsa?”, kami mengangguk, “kenalkan saya Pak Rohim, pengelola villa milik Bapak”, kami makin bingung dibuatnya karena Bapak tidak pernah mengatakan demikian. “Jadi, memang ini villa milik Bapak dan Ibu, sebelum meninggal Bapak nitip pesan kalau villa ini nanti akan dikelola dan dikembangkan oleh anak-anak Bapak. Bapak sangat bangga dengan Mas dan Mbak ini lho. Bapak berharap agar villa ini nantinya dapat semakin ramai pengunjung dan rencananya Bapak pengen buka restoran atau kafe kecil di area villa”, kami hanya mengangguk dan saling pandang.


“Mungkin kalian masih bingung yaaa, jadi ini usaha Bapak dan Ibu waktu kita masih sama-sama muda. Kami memang menyembunyikan hal ini agar kalian tetap terus belajar tanpa penuh dengan fasilitas yang berlimpah. Bapak pengen anak-anak Bapak hidup dengan sederhana. Sekarang, saatnya usaha ini Ibu wariskan ke kalian, kelolalah dengan baik dan bijak”, seraya memberikan jabat tangan kepada kami dan dilanjutkan dengan penjelasan singkat rencana dan target bisnis villa ini. Kamipun tenggelam dalam diskusi dan rencana bisnis kedepannya. Aku tidak menyangka kisah Project Besar Bapak ini berakhir dengan indah. Sungguh, Bapak sangatlah luar biasa.



Tamat.

#5CC #5CC21 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Project Besar Bapak #5




Sore ini semuanya berkumpul di rumah. Mas Biyya menjemput Dek Arsa untuk berangkat ke Bandung mengurus administrasi serta mulai mempersiapkan kegiatan-kegiatan mahasiswa baru. “Kosannya sudah ada Bu, tinggal masuk dan insyaallah lingkungannya baik”, Mas Biyya nampak sedang meyakinkan Ibu bahwa Arsa berada di tempat yang aman. Ibupun mengangguk.


Sore disertai rintik hujan ini membuat suasana menjadi haru bercampur sedih. Ibu bilang akan terasa kesepian jika anak-anaknya semua merantau untuk sekolah. Akan tetapi, Ibu juga tidak bisa menghalangi langkah anak-anaknya. Satu hal yang selalu terucap dari bibir Ibu adalah doa. 



“Dista, kamu kapan pengumuman? Sudah daftar ke perguruan tinggi dimana saja?”, Mas Biyya menanyakan.


“Eh Mas, kemarin daftar di Semarang aja mas dan belum daftar kemana-mana lagi, masih berusaha untuk masuk PTN mas”, jawabku dengan tertunduk khawatir dan takut akan respon Mas Biyya.


“Kamu yakin mau satu aja? Pengumuman kapan? Jadi ambil apa?”, Mas Biyya menghardikku dengan banyak pertanyaan.


“Nanti malam pengumumannya Mas.. Ehhmm, aku ambil sastra aja mas, sama seperti tahun lalu”


“Yakin? Kamu kenapa enggak coba yang lainnya juga sih, kenapa engga coba ambil tata boga seperti saran Bapak?”, Mas Biyya seperti sedang memarahiku, ia pun melanjutkan “Kita lihat nanti hasilnya seperti apa, kalo ternyata enggak lolos adalah konsekuensi kamu, kenapa mencoba masuk di kubangan yang sama”



Akupun hanya tertunduk. Aku sudah berusaha sekuat tenagaku. Perihal pilihan sastra bukanlah karena egoku, namun hanya karena rasa penasaranku. Aku masih ingin membuktikan bahwa aku mampu dan bisa masuk di jurusan yang aku inginkan dari dulu. Aku ingin menjadi penulis, menulis banyak hal dari cerita, puisi maupun novel. Aku hanya ingin itu.



“Aku yakin Mbak Dista bisa kok tembus, bismillah”, Dek Arsa menenangkanku untuk yang kesekian kalinya.



Mas Biyya masih kecut. Aku takut jika Mas Biyya sudah demikian. Memang sih ini adalah kesalahanku. Salah karena tidak pernah mengkomunikasikan kepada Mas Biyya atas apa yang menjadi pilihan dan cita-citaku. Aku hanya berharap dengan penuh khusyuk agar kali ini keberuntungan berada di pihakku.



“Coba, stand by aja dari sekarang Dek! Kita lihat bareng-bareng hasilnya apa nanti yaaa”, ujar Mas Biyya saat melihatku nampak melihat jam dinding dengan muka tegang.



“Mas Biyya, sudah sudah”, Ibu berusaha menenangkan suasana. Aku tau Mas Biyya lumayan kesal denganku karena Mas Biyya bilang bahwa sebisa mungkin aku menurut apa kata Bapak, karena menurutnya Bapak adalah sosok yang selalu memiliki kecermatan analisa yang akurat. 



Beberapa menit berlalu, kini saatnya waktu menunjukkan pada jadwal pengumuman. Semuanya terlihat antusias. Ibu, Mas Biyya dan Dek Arsa nampak ikut tegang menunggu hasil. Penuh gemetar, aku mencoba untuk  masuk ke sistem. Beberapa kali gagal. Setelah sekian percobaan, akhirnya berhasil juga untuk masuk ke sistem, kemudian loading cukup lama. Aku memejamkan mata penuh dengan doa dan hasilnya, MAAF ANDA BELUM LULUS! 



Hatiku hancur sedemikian rupa. Aku menangis. Mengutuki diri. Menyalahkan diri sendiri. Kesempatanku hilang sudah tahun ini. Aku yang masih bersikeras masuk jurusan Sastra Indonesia, ternyata gagal beberapa kali. Aku menatap wajah mereka, penuh dengan rasa layu dan sayu melihat kenyataan ini. Satu hal lainnya ialah aku takut dengan Mas Biyya.



“Lihat? Puas? Gagalkan? Selamat!”, Mas Biyya kini bernada keras, ia pun melanjutkan “sudah berapa kali Mas Biyya bilang kalo kamu tuh harusnya nurut sama apa kata Bapaaaak Distaaa. Mas Biyya, Dek Arsa, semuanya nurut sama apa yang disampaikan Bapak dan kamu lihat kan? Arsa berhasil lolos arsitektur seperti apa yang diharapkan Bapak. Kamu??”



“Mas Biyya!! Sudah Mas, ini juga kan di luar kendali Mbak Dista!”, Arsa nampak membelaku.



“luar kendali?? Heeeyy, semua bisa diantisipasi dari awal, ada strategi, apalagi sudah ada arahan dari Bapak. Dianya sendiri yang enggak pernah mau nurut apa kata Bapak”



“Biyyaaaaa, sudah cukup Mas!”, Ibu memelukku.



“Semuanya membela Dista, padahal dianya sendiri yang membuat hal ini terjadi. Apa sih susahnya mendengarkan saran orang? Lagian salah Bapak juga, dari dulu manjain Dista hanya karena dia anak perempuan satu-satunya di rumah ini”, Mas Biyya makin mengeraskan suaranya.



“Biyyaaa! Sudah sudah nak, istighfar!”, Ibu memeluk Mas Biyya.



“Bu, selama ini Biyya terima segala didikan disiplin dari Bapak dan Ibu, termasuk juga Arsa. Katanya, kita laki-laki harus bisa menjadi laki-laki yang tangguh dan kuat. Ngga banyak rewel! Tapi juga harusnya Bapak mendidik anak perempuannya agar bisa menjadi sosok yang mandiri, disiplin dan tangguh, bukan perempuan manja seperti sekarang ini. Lihat, sekarang dia menangis kan karena kesalahan dia sendiri. Egonya sendiri”



“Mas Biyyaaaa, sudahlah Mas, semua ada solusinya kok, kita pikirkan bersama-sama aja yuk Mas”, Dek Arsa mencoba menenangkan Mas Biyya.



“Iyaaa mas iyaaaa, aku yang salah, semuanya gara-gara aku! Aku enggak pernah dianggap benar di mata mas Biyya. Aku hanya ingin mencoba apa yang aku minati, apa itu salah Mas?”, aku menjawab suara Mas Biyya dengan tinggi pula.



“Kamu tuh keras kepala!”, Mas Biyya dengan singkat.



Aku merasa sedih, marah dan menyesal dengan semuanya. Keluarga ini jadi riuh hanya karena aku. Aku yang memang senang berada di pikiranku sendiri, bukan karena orang lain. Aku menyingkir dari ruang tengah. Bergegas ke kamar, tentu dengan air mata yang menetes tidak terhenti. Baru kali ini Mas Biyya mengeluarkan amarahnya. Baru kali ini aku dibentak sedemikiannya oleh seseorang yang aku anggap panutan. Akupun melanjutkan untuk mencari pendaftaran yang masih dibuka. Satu persatu aku telusuri dengan penuh harap. Akan aku coba segala cara demi sekolah.



toook tooook,-- terdengar suara ketukan pintu kamar. Aku membukanya, Mas Biyya.


“masih mau marah sama aku mas?”, ketusku



“Maafkan Mas Biyya tadi dek, Mas Biyya hanya ingin kamu segera kuliah. Mas Biyya ingin kamu diterima seperti Arsa, udah itu aja”, Mas Biyya meminta maaf lalu melanjutkan, “mau ngga Mas Biyya bantu temani mencari? Kita bersama-sama yuk, cek sesuai dengan apa yang kamu inginkan dan kamu kuati secara nilai”



Aku menangis dibuatnya. Aku tidak menyangka, kemarahan Mas Biyya dengan secepat itu teredam. Kini, aku bersama Mas Biyya, kita mencari satu per satu. Melihat kerja keras Mas Biyya, aku pun menjadi ingin mengambil jurusan tata boga sesuai dengan arahan Bapak dan Mas Biyya. Kali ini aku menurut. Aku menurut dengan pilihan Mas Biyya. Aku yakin, Mas Biyya lebih memahami semuanya. 


(Bersambung)

#5CC #5CC19 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass

Project Besar Bapak #4




Mas Biyya, sejak saat ia menerima kotak dan pesan dari Bapak, ia terlihat sangat termotivasi untuk mengejar asa Bapak. Seakan ia ingin membuktikan bahwa anak laki-laki pertamanya akan mewujudkan mimpi dan harapan Bapak. Bagaimana tidak, hari-harinya kini diisi dengan segala hal positif dan juga belajar untuk persiapan beasiswa. 


Kuliahnya kini masuk di semester tujuh, kata orang semester yang penuh dengan ujian. Pun yang saat ini dirasakan oleh Mas Biyya. Ditengah kesibukannya meraih harapan Bapak, berkas skripsinya sedang terbengkalai. Entah apa yang menjadi alasannya. Mas Biyya sesekali terlihat kalut atas apa yang mendera dirinya.


"Semester akhir memang semester penuh cobaan", kata Mas Biyya dengan penuh emosi dibalik telepon. Tidak pernah sekalipun aku mendengar Mas Biyya mengatakan demikian. Biasanya, ia selalu antusias dan semangat dalam meraih asanya. 



"Bu, skripsi Biyya sudah hampir selesai, hanya karena skor hasil penelitiannya kurang memenuhi, akhirnya Biyya terpaksa mengulang turun lapangan", lanjut Mas Biyya dengan nada penuh penekanan emosi. Ia takut akan kegagalan menerpa dirinya. Bisa dibilang, ia pengecut. Pengecut dengan peluang kegagalan. 



"Mas, mengulang bukan berarti gagal dalam perjuangan Mas. Ibu berharap Mas Biyya selalu semangat dalam perjuangan." Ibu memberikan nasihat dengan penuh kesabaran dan kehati-hatian. "Mas Biyya, dalam kehidupan dewasa, kita harus siap menerima apapun yang hadir dalam hidup kita, masalah ataupun bahagia, suka dan juga duka. Perlu mas ketahui, datangnya masalah bisa dari berbagai sudut mata angin mas, yang bisa Mas Biyya lakukan adalah berusaha untuk tegar melawannya", begitulah Ibu yang selalu berfikir positif atas keluhan apapun dari anak-anaknya.



Ibarat psikolog, sepertinya akulah yang paling sering menghampiri Ibu menyampaikan segala hal keluh kesahku. Kemudian Mas Biyya, berhati cukup keras sehingga ketika gagal menghadang, ia langsung naik pitam. Namun, tidak dengan Arsa. Aku akui, dia tipe anak dengan hati dan mental yang kuat. Ia selalu bisa memecahkan masalahnya dengan cara dia. Pikirannya jernih dan netral. Sepertinya, aku sering menghampiri Arsa hanya sekedar meminta pendapat untuk mengambil keputusan. 



Kali ini, aku mendapatinya sedang sumringah, senyumnya merekah dan sangat semangat untuk mempersiapkan dirinya memasuki kuliah. Bagaimana tidak, impiannya dan impian Bapak kini berhasil ia wujudkan. Arsa, memulai kehidupan barunya di Arsitektur ITB, ia berhasil lolos jalur undangan. Hebat dan beruntungnya anak itu. 



"Mbak, terima kasih ya mbak sudah memberikan aku support, dan Arsa akan selalu support Mbak Dista", ia menghampiri kamarku untuk menyampaikan kalimat itu. "Mbak, aku yakin tahun ini mbak bisa mendapatkan apa yang Mbak Dista harapkan, menjadi seorang sastrawan". Kalimat-kalimatnya selalu berhasil menenangkanku. 


Bulan depan ialah giliranku untuk berjuang. Berjuang meraih asa masa depan. Kali ini, aku tidak boleh gagal. Kali ini, aku harus serempak dengan pencapaian Mas Biyya dan Arsa. Dengan segala ikhtiar dan doa, selebihnya aku pasrah. 


"Bu, kalo Dista tetap ambil sastra apakah Bapak marah Bu?", aku masih terngiang dengan pesan Bapak dan mencari validasi bahwa Bapak akan menerimanya. "Insyaallah, Bapak tidak memaksakan kehendak, Bapak hanya memberikan arahan, jadi pilihan mutlak di tangan Dista". Kalimat Ibu membuat aku yakin dengan pilihan yang akan aku pilih.


Mungkin, orang bilang bahwa aku terlalu egois. Tetap bersikukuh dengan pendirian awal meskipun sudah ditolak beberapa kali. Dua, tiga, ya empat kali. Aku menghitung dalam hati. Percobaan kelima, dengan segala harap dan cemas, semoga apa yang aku semogakan dapat terwujudkan. 



Tepat pada hari ini, aku, Mas Biyya, Arsa dan Ibu, seperti memiliki hidupnya masing-masing. Kami fokus dengan apa yang kami targetkan untuk mewujudkan semuanya. Satu demi satu, pesan-pesan Bapak akan terurai. Aku penasaran dengan apa yang ada di benak Bapak. Aku penasaran apakah ada kelanjutan kisah yang sedang Bapak rencanakan. Andai Bapak masih ada, pasti aku menanyakan ini semua. Terutama tentang pilihan tata boga. 



"Dista, maaf Ibu minta tolong nak", tiba-tiba Ibu menghampiriku yang sedang asyik merapikan berkas. "kenapa Bu?", tanyaku kepada Ibu. "Ini, Ibu ada pesanan cathering lumayan banyak untuk acara balai desa, kalo kamu ada waktu, minta tolong bantuin Ibu ya buat masak-masaknya". Ibu adalah sosok luar biasa, terlebih setelah Bapak tiada. Ia penuh perjuangan agar dapur tetap ngebul dan anak-anak tetap bersekolah. 



Bergegas aku selesaikan penataan berkas-berkasku dan segera menghampiri Ibu di dapur. Ibu mengajarkanku tentang resep-resep dan cara pengolahan masakan. Bukan kali pertama, namun sudah lama aku tidak pernah melakukan hal ini. Sebenarnya aku suka memasak. Beberapa orang bilang masakanku enak dan beberapa kali menjual makanan pre-order pun selalu habis. Selama setahun terakhir, itulah kegiatan kecilku. Memasak masakan yang viral seperti mentai, pizza mini, dan sebagainya. 



Sedikit demi sedikit kami selesaikan pesanan masakan diselingi dengan gurauan dan obrolan, membuatku tidak sadar akan waktu. Empat jam berlalu, semua tinggal finishing, sebagian perlu digoreng. Setidaknya, proses meracik sudah selesai. Aku sangat menikmati memasak, apalagi jika saat koreksi rasa tidak sesuai, seketika langsung ingin ku ulang dan cari tau apa yang salah.  Selepas semua pesanan selesai, kemudian pesanan cathering diantarkan Dek Arsa. 


Setelah semuanya selesai, akupun melanjutkan membereskan semua berkas. Dek Arsa juga melanjutkan packingnya untuk merantau ke Bandung dibantu dengan Mas Biyya untuk mencarikan kosnya disela bimbingan skripsinya. Ibu, masih fokus menjadi seorang Ibu hebat dengan berbisnis. Aku, Mas Biyya dan Dek Arsa, kita selalu riuh di grup pesan tentang Ibu. Sejujurnya, kami merasa kasihan dengan Ibu sepeninggal Bapak. 



"Arsa, kalo sudah di Bandung sering-sering kasih kabar sama Ibu ya nak. Kabarin kalau disana kamu perlu sesuatu hal, sampaikan", Ibu menatap lekat mata Dek Arsa, seperti ada perasaan khawatir seorang Ibu akan ditinggalkan oleh anaknya. Arsa, seseorang yang selalu dekat dan tidak pernah jauh dengan Ibu. 



"Bu, Arsa janji bakal kasih Ibu kebanggaan. Arsa akan berusaha untuk mandiri Bu. Pokoknya kalo Ibu ada apa-apa, butuh teman cerita, tolong sampaikan ke Arsa ya Bu", baru kali ini aku melihat keharuan mendalam Arsa dengan Ibu. Arsa memang panutan, meskipun dia paling muda namun ia mampu memberikan contoh untuk aku dan semuanya dengan pemikiran-pemikiran logisnya. Kembali lagi, aku berharap bisa di posisi seperti Arsa sekarang ini. 



(Bersambung)


#5CC #5CC19 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass

Wednesday, 5 April 2023

Project Besar Bapak #3

 




“Dis, kita diskusi sebentar yuk, ajak Arsa juga”, begitulah pesan singkat Mas Biyya kepadaku bersamaan dengan tautan video conference. Akupun masuk ke dalam video conference yang Mas Biyya buat.


“Hai Mas Biyya, kenapa nih kok mendadak gini?”, celetuk Arsa.


“Sejak diperjalanan ke Bandung sampai sekarang, aku masih kepikiran sama kotak yang Bapak kasih ke kita. Kalian merasa gitu ngga sih? Aku kok masih belum ngerti apa maksud Bapak. Kalian gimana?”


“Iya sih mas, aku juga masih belum ngerti maksud Bapak apaan”, jawabku, “mungkin kenang-kenangan”


“eh tunggu Mas Biyya, Mba Dista, ini di kotak kan ada kasetnya. Mungkin inilah clue dari Bapak. Gimana kalo kita setel kasetnya?”, sahut Arsa. Kamipun sepakat dengannya. Masing-masing kotak memiliki kaset, bisa jadi satu kaset untuk satu orang.


“Oke, kalo begitu kita tonton kaset ini kemudian kita lanjutkan diskusinya yaaa”, Mas Biyya menjelaskan. Aku dan Dek Arsa pun mengangguk sambil memutar kaset di PC dan laptop masing-masing. Kamipun penasaran dibuatnya. Kami termenung. Mendengarkan dan menonton video ini dengan seksama. Ternyata kaset ini adalah kumpulan foto dan video masa kecil kami. Memori yang indah bersama Bapak. Akupun menangis. Rindu. Kemudian, dilanjutkan dengan video singkat Bapak saat sedang dirawat di Rumah Sakit beberapa waktu yang lalu.


****

Hai Mbak Adista.

Sehat kau nak?

Bisa jadi, saat kamu menonton video ini, Bapak sudah tidak lagi disamping kamu. Jika benar adanya, Bapak minta maaf karena belum bisa menepati janji Bapak untuk terus menemani dewasa kalian. Bapak sepenuhnya yakin dan percaya, ada atau tidak adanya Bapak, Adista tetap menjadi wanita yang berbudi pekerti baik. Meski tiadanya Bapak di samping Adis, doa dan keridhoan Bapak akan tetap berada disisimu untuk menemani langkah mudamu.


Mbak Adista, apakah sudah membaca pesan Bapak?


Jika sudah, mohon pertimbangkan apa yang menjadi isi surat itu. Perkara Pendidikan, perempuan harus berpendidikan tinggi. Bapak mendukung itu. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika Mbak Adista mengambil jurusan keterampilan karena ke depannya, ilmu itu dapat kamu gunakan dalam berwirausaha. Belajarlah dengan Ibu tentang manajemen dan bertanyalah kepada Mas Biyya tentang marketing dengan model terbaru.


Sekali lagi, mohon dipertimbangkan. Mungkin ini terkesan kurang nyaman di telinga Mbak Adis, namun Bapak ingin memberikan arahan terakhir untuk Mbak Adis. Namun, apapun itu yang menjadi pilihan Mba Adis, Bapak akan tetap mendukung. Semangat selalu anak perempuanku. Segala hal kesulitan yang kamu temui haruslah dihadapi. Jadilah pribadi tangguh.

****

Video berdurasi 10 menit ini seketika membuatku menangis. Air mata tak terbendung saat melihat Bapak menyampaikan pesan dengan suara bergetar menahan rasa sakitnya. Bapak ialah manusia hebat. Bahkan, disaat terbaring lemah, ia tetap menyempatkan untuk membuat pesan singkat kepada anak-anaknya.


Aku melihat Mas Biyya dan Dek Arsa di layar monitor. Nampak mereka tengah menyeka air matanya. Mungkin, kita sedang merasakan hal yang sama saat ini. Hingga beberapa waktu kemudian, kami masih saja terdiam. Merenungi maksud dari ucapan Bapak.


“Mas, Mbak, ayok kita wujudin mimpi Bapak”, ajak Dek Arsa kepada kami.


“Ayok”, Mas Biyya bersemangat. “Nanti Mas Biyya buatin grup pesan, segala proses dan kendala sampaikan di grup. Kita bareng-bareng untuk mewujudkan masa depan kita masing-masing. Saling bergenggam dan berkabar ya adek-adek”, kemudian video conference dimatikan dan berlanjut dengan pesan di media sosial.


Mas Biyya create a group “Project Besar Bapak


Seketika grup menjadi riuh. Mas Biyya dan Dek Arsa nampak sangat antusias untuk mewujudkan mimpi-mimpi Bapak. Masing-masing saling menyampaikan rencana untuk mencapai segala asanya. Mas Biyya sangat semangat untuk terus berusaha mengejar beasiswa di luar negeri. Dek Arsa, ia sedang mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi Perguruan Tinggi Negeri jalur rapor dengan jurusan rekomendasi Bapak, yakni arsitektur. Aku rasa, mereka mampu mengejar ambisi dan harapan Bapak, kecuali aku.


Aku seringkali merasa tidak bisa mengimbangi langkah Mas Biyya, mungkin juga Dek Arsa. Rasanya, lebih banyak kegagalan yang datang dibandingkan kemujuran. Beda halnya dengan Mas Biyya, aku melihat bahwa dalam urusan sekolah Mas Biyya selalu menjadi yang terbaik. Sedangkan aku, kegagalan menimpaku bertubi-tubi hingga akhirnya satu tahun ini aku jeda masuk perguruan tinggi.


Ingatanku pada kegagalan kembali terkenang. Terbang pada lini masa setahun silam. Jika boleh jujur, aku cukup keberatan dengan misi yang harus aku laksanakan. Aku sangat tertarik untuk masuk ke sastra, sedangkan Bapak menghendaki aku untuk masuk ke jurusan tata boga. Aku bergumam, apakah aku harus mengubur cita-citaku?


“Dis, boleh Ibu masuk kamarmu?”, akupun membuka pintu kamar dan terlihatlah mata sembabku di hadapan Ibu.


“Mba Adis, kamu beneran engga papa nak? Apakah sakit?”, Ibu menanyakannya dengan khawatir. Aku memeluk Ibu erat-erat.


“Bu, ajari aku agar dapat menjadi seperti seorang Ibu. Aku ingin menjadi seorang yang tegar.


“Kamu kenapa Mba? Cerita sama Ibu yuk”


“Bu, perihal pesan Bapak ke Adis sepertinya aku belum dapat memenuhinya Bu. Ibu tahu kan kalo aku ingin masuk ke sastra? Ibu juga masih ingatkan, kalo aku masih saja belum mendapatkan panggilan kuliah hingga sekarang. Bu, berikan alasan kuat kenapa Bapak memintaku untuk masuk ke jurusan tata boga Bu”, rengekku kepada Ibu.


“Dis,Bapak memberikan rekomendasi demikian bukan tanpa sebab, bukan juga tanpa alasan. Dista tau kan Bapak tipe yang bagaimana?”, ibu mulai menjelaskan, “Dista, semua pilihan dan keputusan tetap kembali kepada kamu, Bapak tidak memaksakan kehendak.”


“Tapi Bu?”


“Dista, Ibu memilih Bapak kamu untuk menjadi suami saat itu karena Ibu melihat pola pikirnya yang luas dan tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak semestinya diperdebatkan. Bapak itu, bisa melihat dengan pandangan yang luas setiap permasalahan yang datang. Bapak, seorang pengamat ulung dan seorang planner hebat. Makanya, di awal pernikahan Bapak meminta Ibu untuk tetap mengamati tumbuh kembang kalian, anak-anaknya. Setiap hari, Bapak selalu menanyakan tentang belajar apa dan apa progresnya. Pengamatan Bapak terjadi dari kamu bayi hingga tumbuh besar. Mungkin Bapak kamu itu tipe orang yang cenderung diem, tapi sejatinya Bapak adalah orang yang paling perhatian tentang tumbuh kembang dan masa depan anak-anaknya. Begitulah Dista, Bapak berani memberikan arahan, karena Bapak melihat bahwa kamu memiliki bakat di dunia memasak, makanya Bapak mau kamu masuk kuliah dan ambil jurusan tata boga.”


Aku terdiam. Lagi-lagi merenung. Sebegitu pedulinya Bapak kepada anak-anaknya. Aku memang senang memasak dan beberapa teman mengatakan masakanku enak. Bagiku, memasak bukan hal sulit, cukup pakai kira-kira saja. Lagi-lagi Bapak berucap tidak dengan tanpa alasan. Logis. “Aku pikir ulang ya Bu, terima kasih Bu”, Ibu tersenyum lalu keluar dari kamarku. Tuhan, pilihan apa yang harus aku ambil?



(Bersambung)

Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.

#5CC #5CC18 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass