Project Besar Bapak #3
menulis
“Dis, kita diskusi sebentar yuk,
ajak Arsa juga”, begitulah pesan singkat Mas Biyya kepadaku bersamaan dengan
tautan video conference. Akupun masuk ke dalam video conference yang Mas Biyya
buat.
“Hai Mas Biyya, kenapa nih kok
mendadak gini?”, celetuk Arsa.
“Sejak diperjalanan ke Bandung
sampai sekarang, aku masih kepikiran sama kotak yang Bapak kasih ke kita.
Kalian merasa gitu ngga sih? Aku kok masih belum ngerti apa maksud Bapak.
Kalian gimana?”
“Iya sih mas, aku juga masih
belum ngerti maksud Bapak apaan”, jawabku, “mungkin kenang-kenangan”
“eh tunggu Mas Biyya, Mba Dista,
ini di kotak kan ada kasetnya. Mungkin inilah clue dari Bapak. Gimana kalo kita
setel kasetnya?”, sahut Arsa. Kamipun sepakat dengannya. Masing-masing kotak
memiliki kaset, bisa jadi satu kaset untuk satu orang.
“Oke, kalo begitu kita tonton
kaset ini kemudian kita lanjutkan diskusinya yaaa”, Mas Biyya menjelaskan. Aku
dan Dek Arsa pun mengangguk sambil memutar kaset di PC dan laptop
masing-masing. Kamipun penasaran dibuatnya. Kami termenung. Mendengarkan dan
menonton video ini dengan seksama. Ternyata kaset ini adalah kumpulan foto dan
video masa kecil kami. Memori yang indah bersama Bapak. Akupun menangis. Rindu.
Kemudian, dilanjutkan dengan video singkat Bapak saat sedang dirawat di Rumah
Sakit beberapa waktu yang lalu.
****
Hai Mbak Adista.
Sehat kau nak?
Bisa jadi, saat kamu menonton
video ini, Bapak sudah tidak lagi disamping kamu. Jika benar adanya, Bapak
minta maaf karena belum bisa menepati janji Bapak untuk terus menemani dewasa
kalian. Bapak sepenuhnya yakin dan percaya, ada atau tidak adanya Bapak, Adista
tetap menjadi wanita yang berbudi pekerti baik. Meski tiadanya Bapak di samping
Adis, doa dan keridhoan Bapak akan tetap berada disisimu untuk menemani langkah
mudamu.
Mbak Adista, apakah sudah membaca
pesan Bapak?
Jika sudah, mohon pertimbangkan
apa yang menjadi isi surat itu. Perkara Pendidikan, perempuan harus
berpendidikan tinggi. Bapak mendukung itu. Akan tetapi, alangkah lebih baik
jika Mbak Adista mengambil jurusan keterampilan karena ke depannya, ilmu itu
dapat kamu gunakan dalam berwirausaha. Belajarlah dengan Ibu tentang manajemen
dan bertanyalah kepada Mas Biyya tentang marketing dengan model terbaru.
Sekali lagi, mohon
dipertimbangkan. Mungkin ini terkesan kurang nyaman di telinga Mbak Adis, namun
Bapak ingin memberikan arahan terakhir untuk Mbak Adis. Namun, apapun itu yang
menjadi pilihan Mba Adis, Bapak akan tetap mendukung. Semangat selalu anak
perempuanku. Segala hal kesulitan yang kamu temui haruslah dihadapi. Jadilah
pribadi tangguh.
****
Video berdurasi 10 menit ini
seketika membuatku menangis. Air mata tak terbendung saat melihat Bapak
menyampaikan pesan dengan suara bergetar menahan rasa sakitnya. Bapak ialah
manusia hebat. Bahkan, disaat terbaring lemah, ia tetap menyempatkan untuk
membuat pesan singkat kepada anak-anaknya.
Aku melihat Mas Biyya dan Dek
Arsa di layar monitor. Nampak mereka tengah menyeka air matanya. Mungkin, kita
sedang merasakan hal yang sama saat ini. Hingga beberapa waktu kemudian, kami
masih saja terdiam. Merenungi maksud dari ucapan Bapak.
“Mas, Mbak, ayok kita wujudin mimpi
Bapak”, ajak Dek Arsa kepada kami.
“Ayok”, Mas Biyya bersemangat.
“Nanti Mas Biyya buatin grup pesan, segala proses dan kendala sampaikan di
grup. Kita bareng-bareng untuk mewujudkan masa depan kita masing-masing. Saling
bergenggam dan berkabar ya adek-adek”, kemudian video conference dimatikan dan
berlanjut dengan pesan di media sosial.
Mas Biyya create a group “Project
Besar Bapak”
Seketika grup menjadi riuh. Mas
Biyya dan Dek Arsa nampak sangat antusias untuk mewujudkan mimpi-mimpi Bapak.
Masing-masing saling menyampaikan rencana untuk mencapai segala asanya. Mas
Biyya sangat semangat untuk terus berusaha mengejar beasiswa di luar negeri.
Dek Arsa, ia sedang mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi Perguruan
Tinggi Negeri jalur rapor dengan jurusan rekomendasi Bapak, yakni arsitektur.
Aku rasa, mereka mampu mengejar ambisi dan harapan Bapak, kecuali aku.
Aku seringkali merasa tidak bisa
mengimbangi langkah Mas Biyya, mungkin juga Dek Arsa. Rasanya, lebih banyak
kegagalan yang datang dibandingkan kemujuran. Beda halnya dengan Mas Biyya, aku
melihat bahwa dalam urusan sekolah Mas Biyya selalu menjadi yang terbaik. Sedangkan
aku, kegagalan menimpaku bertubi-tubi hingga akhirnya satu tahun ini aku jeda masuk
perguruan tinggi.
Ingatanku pada kegagalan kembali
terkenang. Terbang pada lini masa setahun silam. Jika boleh jujur, aku cukup
keberatan dengan misi yang harus aku laksanakan. Aku sangat tertarik untuk
masuk ke sastra, sedangkan Bapak menghendaki aku untuk masuk ke jurusan tata
boga. Aku bergumam, apakah aku harus mengubur cita-citaku?
“Dis, boleh Ibu masuk kamarmu?”,
akupun membuka pintu kamar dan terlihatlah mata sembabku di hadapan Ibu.
“Mba Adis, kamu beneran engga
papa nak? Apakah sakit?”, Ibu menanyakannya dengan khawatir. Aku memeluk Ibu
erat-erat.
“Bu, ajari aku agar dapat menjadi
seperti seorang Ibu. Aku ingin menjadi seorang yang tegar.
“Kamu kenapa Mba? Cerita sama Ibu
yuk”
“Bu, perihal pesan Bapak ke Adis
sepertinya aku belum dapat memenuhinya Bu. Ibu tahu kan kalo aku ingin masuk ke
sastra? Ibu juga masih ingatkan, kalo aku masih saja belum mendapatkan
panggilan kuliah hingga sekarang. Bu, berikan alasan kuat kenapa Bapak
memintaku untuk masuk ke jurusan tata boga Bu”, rengekku kepada Ibu.
“Dis,Bapak memberikan rekomendasi
demikian bukan tanpa sebab, bukan juga tanpa alasan. Dista tau kan Bapak tipe
yang bagaimana?”, ibu mulai menjelaskan, “Dista, semua pilihan dan keputusan
tetap kembali kepada kamu, Bapak tidak memaksakan kehendak.”
“Tapi Bu?”
“Dista, Ibu memilih Bapak kamu
untuk menjadi suami saat itu karena Ibu melihat pola pikirnya yang luas dan
tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak semestinya diperdebatkan. Bapak itu,
bisa melihat dengan pandangan yang luas setiap permasalahan yang datang. Bapak,
seorang pengamat ulung dan seorang planner hebat. Makanya, di awal pernikahan
Bapak meminta Ibu untuk tetap mengamati tumbuh kembang kalian, anak-anaknya.
Setiap hari, Bapak selalu menanyakan tentang belajar apa dan apa progresnya. Pengamatan
Bapak terjadi dari kamu bayi hingga tumbuh besar. Mungkin Bapak kamu itu tipe
orang yang cenderung diem, tapi sejatinya Bapak adalah orang yang paling perhatian
tentang tumbuh kembang dan masa depan anak-anaknya. Begitulah Dista, Bapak
berani memberikan arahan, karena Bapak melihat bahwa kamu memiliki bakat di
dunia memasak, makanya Bapak mau kamu masuk kuliah dan ambil jurusan tata boga.”
Aku terdiam. Lagi-lagi merenung.
Sebegitu pedulinya Bapak kepada anak-anaknya. Aku memang senang memasak dan beberapa
teman mengatakan masakanku enak. Bagiku, memasak bukan hal sulit, cukup pakai kira-kira
saja. Lagi-lagi Bapak berucap tidak dengan tanpa alasan. Logis. “Aku pikir
ulang ya Bu, terima kasih Bu”, Ibu tersenyum lalu keluar dari kamarku. Tuhan,
pilihan apa yang harus aku ambil?
(Bersambung)
Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.
#5CC #5CC18 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass
.png)
.png)

.jpeg)


