Wednesday, 5 April 2023

Project Besar Bapak #3

 




“Dis, kita diskusi sebentar yuk, ajak Arsa juga”, begitulah pesan singkat Mas Biyya kepadaku bersamaan dengan tautan video conference. Akupun masuk ke dalam video conference yang Mas Biyya buat.


“Hai Mas Biyya, kenapa nih kok mendadak gini?”, celetuk Arsa.


“Sejak diperjalanan ke Bandung sampai sekarang, aku masih kepikiran sama kotak yang Bapak kasih ke kita. Kalian merasa gitu ngga sih? Aku kok masih belum ngerti apa maksud Bapak. Kalian gimana?”


“Iya sih mas, aku juga masih belum ngerti maksud Bapak apaan”, jawabku, “mungkin kenang-kenangan”


“eh tunggu Mas Biyya, Mba Dista, ini di kotak kan ada kasetnya. Mungkin inilah clue dari Bapak. Gimana kalo kita setel kasetnya?”, sahut Arsa. Kamipun sepakat dengannya. Masing-masing kotak memiliki kaset, bisa jadi satu kaset untuk satu orang.


“Oke, kalo begitu kita tonton kaset ini kemudian kita lanjutkan diskusinya yaaa”, Mas Biyya menjelaskan. Aku dan Dek Arsa pun mengangguk sambil memutar kaset di PC dan laptop masing-masing. Kamipun penasaran dibuatnya. Kami termenung. Mendengarkan dan menonton video ini dengan seksama. Ternyata kaset ini adalah kumpulan foto dan video masa kecil kami. Memori yang indah bersama Bapak. Akupun menangis. Rindu. Kemudian, dilanjutkan dengan video singkat Bapak saat sedang dirawat di Rumah Sakit beberapa waktu yang lalu.


****

Hai Mbak Adista.

Sehat kau nak?

Bisa jadi, saat kamu menonton video ini, Bapak sudah tidak lagi disamping kamu. Jika benar adanya, Bapak minta maaf karena belum bisa menepati janji Bapak untuk terus menemani dewasa kalian. Bapak sepenuhnya yakin dan percaya, ada atau tidak adanya Bapak, Adista tetap menjadi wanita yang berbudi pekerti baik. Meski tiadanya Bapak di samping Adis, doa dan keridhoan Bapak akan tetap berada disisimu untuk menemani langkah mudamu.


Mbak Adista, apakah sudah membaca pesan Bapak?


Jika sudah, mohon pertimbangkan apa yang menjadi isi surat itu. Perkara Pendidikan, perempuan harus berpendidikan tinggi. Bapak mendukung itu. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika Mbak Adista mengambil jurusan keterampilan karena ke depannya, ilmu itu dapat kamu gunakan dalam berwirausaha. Belajarlah dengan Ibu tentang manajemen dan bertanyalah kepada Mas Biyya tentang marketing dengan model terbaru.


Sekali lagi, mohon dipertimbangkan. Mungkin ini terkesan kurang nyaman di telinga Mbak Adis, namun Bapak ingin memberikan arahan terakhir untuk Mbak Adis. Namun, apapun itu yang menjadi pilihan Mba Adis, Bapak akan tetap mendukung. Semangat selalu anak perempuanku. Segala hal kesulitan yang kamu temui haruslah dihadapi. Jadilah pribadi tangguh.

****

Video berdurasi 10 menit ini seketika membuatku menangis. Air mata tak terbendung saat melihat Bapak menyampaikan pesan dengan suara bergetar menahan rasa sakitnya. Bapak ialah manusia hebat. Bahkan, disaat terbaring lemah, ia tetap menyempatkan untuk membuat pesan singkat kepada anak-anaknya.


Aku melihat Mas Biyya dan Dek Arsa di layar monitor. Nampak mereka tengah menyeka air matanya. Mungkin, kita sedang merasakan hal yang sama saat ini. Hingga beberapa waktu kemudian, kami masih saja terdiam. Merenungi maksud dari ucapan Bapak.


“Mas, Mbak, ayok kita wujudin mimpi Bapak”, ajak Dek Arsa kepada kami.


“Ayok”, Mas Biyya bersemangat. “Nanti Mas Biyya buatin grup pesan, segala proses dan kendala sampaikan di grup. Kita bareng-bareng untuk mewujudkan masa depan kita masing-masing. Saling bergenggam dan berkabar ya adek-adek”, kemudian video conference dimatikan dan berlanjut dengan pesan di media sosial.


Mas Biyya create a group “Project Besar Bapak


Seketika grup menjadi riuh. Mas Biyya dan Dek Arsa nampak sangat antusias untuk mewujudkan mimpi-mimpi Bapak. Masing-masing saling menyampaikan rencana untuk mencapai segala asanya. Mas Biyya sangat semangat untuk terus berusaha mengejar beasiswa di luar negeri. Dek Arsa, ia sedang mempersiapkan berkas untuk mengikuti seleksi Perguruan Tinggi Negeri jalur rapor dengan jurusan rekomendasi Bapak, yakni arsitektur. Aku rasa, mereka mampu mengejar ambisi dan harapan Bapak, kecuali aku.


Aku seringkali merasa tidak bisa mengimbangi langkah Mas Biyya, mungkin juga Dek Arsa. Rasanya, lebih banyak kegagalan yang datang dibandingkan kemujuran. Beda halnya dengan Mas Biyya, aku melihat bahwa dalam urusan sekolah Mas Biyya selalu menjadi yang terbaik. Sedangkan aku, kegagalan menimpaku bertubi-tubi hingga akhirnya satu tahun ini aku jeda masuk perguruan tinggi.


Ingatanku pada kegagalan kembali terkenang. Terbang pada lini masa setahun silam. Jika boleh jujur, aku cukup keberatan dengan misi yang harus aku laksanakan. Aku sangat tertarik untuk masuk ke sastra, sedangkan Bapak menghendaki aku untuk masuk ke jurusan tata boga. Aku bergumam, apakah aku harus mengubur cita-citaku?


“Dis, boleh Ibu masuk kamarmu?”, akupun membuka pintu kamar dan terlihatlah mata sembabku di hadapan Ibu.


“Mba Adis, kamu beneran engga papa nak? Apakah sakit?”, Ibu menanyakannya dengan khawatir. Aku memeluk Ibu erat-erat.


“Bu, ajari aku agar dapat menjadi seperti seorang Ibu. Aku ingin menjadi seorang yang tegar.


“Kamu kenapa Mba? Cerita sama Ibu yuk”


“Bu, perihal pesan Bapak ke Adis sepertinya aku belum dapat memenuhinya Bu. Ibu tahu kan kalo aku ingin masuk ke sastra? Ibu juga masih ingatkan, kalo aku masih saja belum mendapatkan panggilan kuliah hingga sekarang. Bu, berikan alasan kuat kenapa Bapak memintaku untuk masuk ke jurusan tata boga Bu”, rengekku kepada Ibu.


“Dis,Bapak memberikan rekomendasi demikian bukan tanpa sebab, bukan juga tanpa alasan. Dista tau kan Bapak tipe yang bagaimana?”, ibu mulai menjelaskan, “Dista, semua pilihan dan keputusan tetap kembali kepada kamu, Bapak tidak memaksakan kehendak.”


“Tapi Bu?”


“Dista, Ibu memilih Bapak kamu untuk menjadi suami saat itu karena Ibu melihat pola pikirnya yang luas dan tidak memperdebatkan hal-hal yang tidak semestinya diperdebatkan. Bapak itu, bisa melihat dengan pandangan yang luas setiap permasalahan yang datang. Bapak, seorang pengamat ulung dan seorang planner hebat. Makanya, di awal pernikahan Bapak meminta Ibu untuk tetap mengamati tumbuh kembang kalian, anak-anaknya. Setiap hari, Bapak selalu menanyakan tentang belajar apa dan apa progresnya. Pengamatan Bapak terjadi dari kamu bayi hingga tumbuh besar. Mungkin Bapak kamu itu tipe orang yang cenderung diem, tapi sejatinya Bapak adalah orang yang paling perhatian tentang tumbuh kembang dan masa depan anak-anaknya. Begitulah Dista, Bapak berani memberikan arahan, karena Bapak melihat bahwa kamu memiliki bakat di dunia memasak, makanya Bapak mau kamu masuk kuliah dan ambil jurusan tata boga.”


Aku terdiam. Lagi-lagi merenung. Sebegitu pedulinya Bapak kepada anak-anaknya. Aku memang senang memasak dan beberapa teman mengatakan masakanku enak. Bagiku, memasak bukan hal sulit, cukup pakai kira-kira saja. Lagi-lagi Bapak berucap tidak dengan tanpa alasan. Logis. “Aku pikir ulang ya Bu, terima kasih Bu”, Ibu tersenyum lalu keluar dari kamarku. Tuhan, pilihan apa yang harus aku ambil?



(Bersambung)

Nantikan kelanjutan ceritanya di episode selanjutnya.

#5CC #5CC18 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Monday, 3 April 2023

Project Besar Bapak #2

 


Kedukaan dan rasa kehilangan masih bersemayam di rumah ini. Teras belakang rumah kini nampak kosong, tak seperti biasanya. Terkadang, bayang imaji menghadirkan Bapak duduk sambil baca koran dan ditemani secangkir tah panas buatan Ibu. Rindu. Ruang tengah yang biasanya riuh, kini menjadi kaku. Hening. Mas Biyya, si usil yang sekarang mendadak jadi diam, demikian Dek Arsa. Sesekali, aku masih menganggap bahwa Bapak masih bersama kami, seperti pada hari-hari sebelumnya ketika Bapak menyibukkan diri di kebun belakang rumah kami.


Mas Biyya, sibuk membuka lembaran foto masa kecil kami. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin memorinya sedang berputar dalam sadar. Sementara Dek Arsa, sedang menyibukkan diri dengan menggambar untuk meluapkan pikirannya. Semuanya sedang tenggelam dalam kehilangan. Aku, Mas Biyya dan Dek Arsa, namun tidak dengan Ibu.


Seminggu sudah kepergian Bapak, namun tamu masih saja banyak. Terlihat Ibu sedang menemui teman-teman Bapak dengan senyum yang merekah. Sebegitu tegarnya wanita itu. Kehilangan suami yang selalu menemani ialah hal berat untuk dilalui. Bahkan, Ibu masih sabar melayani pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana Bapak tiada. Bagiku, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang tepat untuk dipertanyakan kepada keluarga yang sedang berduka. Meskipun demikian, Ibu masih bisa menjelaskan dengan sabar setiap pertanyaan.


Aku melihat dari jauh para tamu silih berganti untuk pamit. Bergegas aku ke dapur dan mengambil pudding di dalam lemari es. Sengaja aku buatkan untuk dapat mencairkan suasana yang sedang dilanda nestapa. “Heeeeiii, pada bengong nih, puding manga dan es buah by me!”, teriakku dari dapur untuk memecah keheningan dan dilanjutkan dengan suara hentakan kaki berlari Mas Biyya dan Dek Arsa. Seperti yang aku duga, mereka berebut. “Ternyata bengong bisa bikin laper juga yaaaa”, ejekku kepada mereka.


“Mas Biyyaaaa, ini potongan pudingku!!!”, Dek Arsa dan Mas Biyya masih terus berebut. Aku hanya tertawa melihat tingkah konyol mereka.


“Ada apa ini rame sekali”, Ibu menghampiri kami yang tengah gaduh di meja makan dapur.


“Ini lho Bu, Mas Biyya ambil jatah pudingkuuuu!”


“Enak ajaaa, kamu kan udah ambil duaaa, ini jatahku!”


Begitulah seterusnya, ramai. Hal ini yang aku rindukan seminggu belakangan. Suara-suara keributan masih terus bersahutan. Kalo Bapak disini pasti akan keluar suara, “heee heeee, kayak lagi di hutan rimba”. Ibu juga tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Harapanku, keluarga ini tetap menjadi keluarga yang hangat meski tanpa sosok Bapak disamping kami.


“Bu, kotak apa itu?”, tanyaku saat melihat Ibu membawa kotak yang diambil dari meja kerja Bapak.


“Sini sebentar kita berkumpul yuk di tengah”, jawab Ibu penuh senyum.


Ruang tengah seketika hening kembali. Mendengarkan dengan seksama apa yang Ibu sampaikan. Kamipun penasaran denga napa yang ada di balik kotak itu.


“Jadi, sebelum meninggal Bapak nitip pesan ke Ibu untuk disampaikan ke kalian. Didalam kotak ini terdapat tiga kotak dan masing-masingnya memiliki nama. Setelah ini, ambil kotaknya sesuai dengan nama kalian”, jelas Ibu.


Kami bertigapun mengambil kotak sesuai dengan arahan Ibu. Dengan hati-hati dan penasaran, kami membuka kotak itu secara perlahan. Semuanya sama. Ada amplop berisikan surat, pulpen dan buku agenda serta kaset. Jujur, aku masih belum paham apa yang harus aku lakukan dengan isi kotak ini.


“Dibaca perlahan isi surat tersebut ya nak, karena itulah harapan Bapak. Wasiat. Apapun yang tertulis disana, Ibu yakin anak-anak Ibu pasti akan bisa menerima tantangan dari Bapak. Doa Ibu menyertai kalian dimanapun berada”, kalimat Ibu menenangkan kami.


Perlahan kami membaca isi pesan Bapak.

 

****

Adista Isvara, anak perempuanku satu-satunya.

Pertemuan pertamaku denganmu adalah kebahagiaan yang tak terkira sekaligus tantangan yang besar bagi Bapak. Membesarkan anak perempuan jauh lebih sulit dipandangan Bapak dibandingkan dengan lelaki. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu pikiran Bapak ternyata salah. Dista tumbuh menjadi anak perempuan Bapak yang mandiri, kuat dan tangguh.


Mbak, dalam surat ini Bapak berpesan bahwa apapun yang terjadi di depan, Adista harus tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bapak melihat Adista hobi memasak dan memang jago. Coba ditekuni lebih lagi, ambil kuliah jurusan masak. Bapak yakin, Adista bisa menjadi sosok yang luar biasa di kemudian hari. Semangat nak!

 

****

 Arsa Birendra, jagoan Bapak yang suka menggambar.

Bapak selalu mengagumi karya-karyamu. Kamu ahli dalam hal pewarnaan, membuat bayangan dan preposisi gambar. Bapak selalu mengingatkan kepadamu nak, jadilah lelaki yang kuat dan mandiri. Tetap asah karya-karyamu nak. Kejarlah segala mimpi dan harapanmu untuk menjadi arsitek seperti yang kamu sampaikan tempo hari ke Bapak. Bapak akan terus mendukungmu.

 

****

Abiyya Nawasena, sosok panutan arif dan bijaksana.

Kelahiranmu adalah momen dimana Bapak mengalami kebangkrutan usaha. Namun denganmu, Bapak berhasil bangkit lagi dari keterpurukan keadaan. Kamu penyemangat Bapak. Bersama kamu, Bapak berani melangkah lebih jauh, membuka mata lebih lebar. Keterpurukan berhasil Bapak singkirkan. Biyya, kamu sosok yang pandai di perhitungan dan bisnis. Nampak jelas, sejak kecil kamu hobi jualan, mulai dari printilan Tamiya, hingga isi buku binder. Sepertinya, akan lebih baik lagi jika Mas Biyya bisa mengambil beasiswa di luar negeri dan kuliah di bisnis internasional.

 

****

Kami saling memandang satu sama lain. Baik aku, Mas Biyya dan Arsa, kami kaget akan pesan dan misi Bapak yang akan berlanjut setelah ini.


“Bu, Biyya terlalu keberatan dengan pesan Bapak. Bu, kali ini biarkan Biyya yang mengalah untuk masa depan adik-adik Bu. Biyya akan bekerja Bu setelah lulus sidang ini”, Mas Biyya tidak mungkin membiarkan Ibu mencari uang seorang diri untuk sekolah anak-anaknya.


“Mas, Ibu justru akan marah jika kamu tidak menurut apa kata Bapak. Apa yang tercatat di pesan ini ialah harapan Bapak kepada kalian, anak-anaknya. Tetap semangat dan terus belajar ya nak”, kata Ibu dengan nada yang cukup tinggi.


Sejak saat itu, aku, Mas Biyya dan Arsa, kami saling memberikan kabar dan membantu satu sama lain. Makin merekatkan jalinan komunikasi internal agar dapat saling mengerti kondisi masing-masing. Hal ini adalah hal baru untuk kami. Target baru dan semangat baru. Kehadiran Bapak nampak terasa rupanya. Seperti halnya ada Bapak disamping kami yang sedang memberikan tanggung jawab baru.


Selanjutnya, tiba saatnya Mas Biyya berpamitan untuk kembali ke perantauan di Bandung. Penuh semangat ia berusaha meyakinkan Ibu bahwa ia mampu seperti apa yang Bapak harapkan kepada kami. “Bu, Biyya berjanji akan memenuhi project besar Bapak ini”, kata Mas Biyya meyakinkan Ibu bahwa dirinya akan menetapi janji.


(bersambung)

nantikan kisah selanjutnya yaaa..

#5CC #5CC17 #BentangPustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass

Sunday, 2 April 2023

Project Besar Bapak #1

 


Tuuuut….tuuut… (suara telepon berdering)


“Bu, Bapak minta ditemenin di kamar Bu, sepertinya ada yang mau disampaikan. Oh iya, Mas Biyya belum ada jawaban Bu?”, ibu hanya menggelengkan kepala pertanda belum ada jawaban dari Mas Biyya.


“Biarkan Adis yang gentian telepon Mas Biyya ya Bu, Ibu tenangin diri dan temui Bapak”, ibu bergegas menemani Bapak yang sedang istirahat di kamar.


Tuuuutt... “Haloooo Dis..”


Mas Biyya, alhamdulillah, Mas, Bapak sakit Mas sejak kemarin, Mas Biyya pulang ya Mas, Ibu daritadi telepon Mas Biyya, pulang ya Mas, kami tunggu”


“Bapak sakit? I..iyyaaaa Dis, Mas pulang sore ini”, suara Mas Biyya terdengar bergetar mendengar kabar ini.


Akupun bergegas menyiapkan makan siang untuk Bapak, bubur ayam spesial favorit Bapak dengan bawang goreng dan suwiran ayam, apalagi disajikan hangat. “Semoga Bapak lekas sembuh”, doaku di atas mangkok bubur ayam ini.


Aku menghampiri Ibu, meletakkan bubur ayam. Sigap, Ibu menerimanya dan menyuapi Bapak perlahan. Nampak sekali ketulusan terpancar. Pengabdian Ibu untuk suaminya memang tiada tanding. Aku memandangi keduanya dari kejauhan, menatap sekilas Bapak dan Ibu, aku berharap keselamatan dan kesehatan selalu menyertainya.


Refleks, air mata menetes. Rasanya, tidak kuat melihat Bapak berbaring lemah di atas ranjang. Bapak, sosok yang selalu ceria dengan segala candaannya, kini lemah tak berdaya.


Di samping kamar, terdapat meja dan lemari foto. Berjejer beberapa foto masa kecil kami. Sesekali aku tersenyum, Bapak memang selalu memiliki cara untuk mengajak kami bermain dan bahagia. Gambaran-gambaran yang penuh dengan kenangan terbingkai dengan apik dan resik di atas meja ini.


“Mbaaaak”


“Dek Arsa, bagaimana ujianmu hari ini Dek?”


“Mbak, aku kepikiran Bapak selama mengerjakan ujian hari ini, Bapak gimana Mbak kabarnya?”, ialah Arsa, adikku, meskipun lelaki ia memiliki jiwa kasih yang tinggi, apalagi kalau hubungannya dengan Bapak. Akhir-akhir ini, Bapak memang sedang dekat dengan Arsa untuk menemani belajar dan menyemangatinya menuju ujian akhir sekolah. Itulah yang dilakukan Bapak kepada kami, anak-anaknya.


“Enggak apa-apa Dek, kamu tenang saja, insyaallah semuanya akan membaik, kita doakan yang terbaik ya Dek”, jawabku menenangkan Arsa, sambil saling menggenggam untuk saling menguatkan.


“Mbak, Mas Biyya sudah tau kondisi Bapak”


“Mas Biyya sudah mbak telpon tadi, sore ini perjalanan dari Bandung, mungkin malam nanti sampe Semarang. Minta tolong nanti jemput Mas Biyya ya dek di Stasiun Tawang.”


Mas Biyya dan Dek Arsa, mereka adalah lelaki dengan postur tegap dan tegas namun keberhasilan didikan Bapak mampu menghadirkan jiwa kasih kepada anak-anaknya. Mas Biyya, sosok kakak lelaki yang disegani banyak orang, tutur katanya sopan, ketegasannya jangan ditanya, ia sangat disiplin dan rapih. Setiap hari wangi. Tak heran, kalau jalan di mall Mas Biyya seringkali ditawari SPG mobil untuk sekedar mampir melihat unit.


Dek Arsa, belum terlalu nampak seperti Mas Biyya, namun sosok Dek Arsa adalah anak yang riang dan ceria, hidupnya suka dengan ketenangan dan kedamaian. Jiwanya sangat welas asih. Senang membantu sesama. Kalau sudah melukis atau menggambar, Dek Arsa semacam semedi dan tidak bisa diganggu gugat. Lagi-lagi, Bapak berhasil mendidik Dek Arsa menjadi sosok anak mandiri dan berbakat dalam beberapa hal tentang kreasi dan kesenian.


“Bu, gantian Arsa yang nemenin Bapak, Ibu istirahat dulu Bu”, aku mendengar Arsa menyelinap di kamar Bapak sambil memijit tengkuk Ibu yang sedari tadi duduk menemani Bapak.


Kring Kring (notifikasi pesan) 

“otw”, pesan singkat dari Mas Biyya yang tengah dalam perjalanan.


“Mbak, Mas Biyya sudah angkat telepon? Sudah dikabari kondisi Bapak?”, tanya Ibu kepadaku.


“Sudah Bu, Mas Biyya di perjalanan Bu, keretanya baru saja jalan”, jawabku.


“Alhamdulillah”, dengan muka pucat Ibu bergegas mengambil wudhu, terlihat sekali kekhawatiran di raut muka Ibu yang sebelumnya tidak pernah sedemikian khawatirnya.


***

“Assalammu’alaikum”, terdengar suara Mas Biyya seraya masuk ke rumah dan mencari Bapak.


Mas Biyya sudah berada di rumah. Bergegas ia bersih-bersih badan dan langsung melihat kondisi Bapak di kamar. Kami berempatpun berkumpul di kamar, memberikan semangat agar Bapak segera sembuh seperti sebelumnya.


“Biyyaaa, sini nak”, wajah Bapak berbinar melihat kedatangan Mas Biyya. “Iya Pak, ini Biyya sudah pulang, Bapak sehat-sehat ya Pak. Biyya disamping Bapak sekarang”, Bapak tersenyum dan melanjutkan pembicaran dengan nafas pendek, "Bi... Bapak pesen.. kamu.. anak pertama Bapak.. terus jaga adekmu..ibumu, sekolah yang tinggi.. bantu adekmu juga.. Bapak bangga sama kamu.. Bapak yakin kamu bi.. bisa.. bijaksana..”, Mas Biyya menangis dan memeluk Bapak, begitu juga aku dan Arsa. Ibu, memilih keluar kamar dan menangis disana. “Pak, Bapak sembuh kok, kami selalu disini nemenin Bapak, Biyya janji akan lulus tepat waktu Pak dan segera bantu ibu dan adek-adek”.


Aku keluar, menemani Ibu yang sedang berdiri di balik dinding kamar sembari menahan air mata untuk tidak terjatuh. Aku memeluk Ibu erat. Seketika, bendungan air mata tidak lagi tertahankan. Air matanya mengalir deras saat Bapak memberikan kalimat “nitip Ibu dan adekmu” kepada Mas Biyya. Mendengar kalimat itu, pikiranku melayang. Memohon hal buruk tidak terjadi kepada Bapak.


“Mas Biyya dan Arsa, sini nak, bacakan Bapak Ar Rahman”, suara Bapak lirih. Mas Biyya dan Dek Arsa pun mulai mengaji keinginan hati Bapak.


Sehari ini pun berlalu. Bapak sudah menyampaikan apa yang diharapkannya. Bapak sudah bahagia melihat anak-anaknya berkumpul bersama di rumah sederhana ini. Aku, sangatlah bersyukur dilahirkan di dunia ini. Keluarga yang sangat menjunjung rasa kebersamaan dan kekeluargaan.


“Bu, Bapak sudah tidur Bu”, Mas Biyya keluar dari kamar dengan suara payau, begitupun Dek Arsa.


Mas Biyya dan Dek Arsa, memeluk kami dengan erat. Kami berempat tenggelam dalam air mata. Terlalu banyak hal baik yang Bapak berikan kepada keluarga ini. Bersama dengan Bapak, segala hal masalah memiliki solusi. Bersama Bapak, ketakutan berubah menjadi keberanian.


Akan tetapi kali ini, Bapak sudah memberikan kepercayaannya kepada kami. Mulai hari ini, Bapak memberikan amanah peran baru kepada anak-anaknya. Kini, saatnya Bapak beristirahat panjang dengan penuh ketentraman.



(bersambung...)

#5CC #5CC16 #Bentangpustaka #CerpenCareerClass #WritingCareerClass


Thursday, 30 March 2023

Book Review : Catatan Juang by Fiersa Besari




Identitas Buku

Judul                         : Catatan Juang

Penulis                      : Fiersa Besari

Tebal Halaman        : 303 halaman

Tahun terbit              : 2017

Penerbit                    : Mediakita



Sinopsis Buku

Suar, gadis remaja yang tengah dilanda dilematis kehidupan untuk memperjuangkan masa depannya. Pertemuan Suar dengan buku sampul merah merupakan ketidaksengajaan yang terjadi di kehidupan Suar. Buku merah yang berisikan catatan singkat buku harian, namun mampu membuka mata hati Suar untuk mengejar dan menata masa depannya. 


Novel ini merupakan novel lama yang saya baca berdasarkan rekomendasi kawan yang menurutnya bagus dan sesuai dengan kondisi saya saat ini. Halaman demi halaman tersemat pesan kehidupan yang dikemas secara singkat dan ringan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti. 


Premis dalam novel ini menceritakan tentang kisah petualang gadis remaja yang sedang mencari jati diri untuk meraih kehidupan yang diharapkannya. Terlihat Penulis ingin memberikan pesan kepada remaja untuk tetap teguh pendirian dengan apa yang mereka harapkan, kemudian perjuangkan. Begitulah sekiranya pesan yang ingin disampaikan Penulis kepada para pembaca, yakni tentang memaknai kehidupan.


Kelebihan Buku

Novel dengan judul Catatan Juang ini cukup tebal, namun dikemas dengan ringan sehingga tidak membuat pembaca bosan. Gaya bahasa yang dipakai sederhana sehingga membuat pembaca dapat berimajinasi dengan baik sesuai dengan deskripsi yang digambarkan oleh Penulis. Penggambaran latar waktu, tempat dan suasana juga dikemas dengan lengkap dan jelas sehingga pembaca dapat ikut merasakan suasana yang ditampilkan di cerita Catatan Juang. 


Cerita ini menurut saya menarik, karena Penulis mampu mengemas dua kisah Suar dan Juang dalam satu cerita dengan alur yang berbeda kemudian membuat satu koneksi agar dua kisah ini dapat koheren. Penulis mampu mengoneksikan tokoh Suar yang memiliki karakter yang tengah mengalami dilema kemudian dipertemukan dengan tulisan Juang yang secara tersirat merupakan sosok yang memiliki nilai semangat tinggi, dua karakter yang memiliki gap namun Penulis berhasil menyatukan keduanya. 


Alur yang disampaikan dalam cerita ini juga menarik, yakni menggunakan alur campuran dimana Juang memiliki alur mundur dalam bentuk tulisan catatan hariannya dan Suar memiliki alur campuran. Transisi alur dalam cerita Suar cukup halus dengan percepatan ritme yang ditandai dengan dialog serta kilas balik atau flash back. 


Deskripsinya jelas dan detail adalah hal yang saya suka saat membaca Catatan Juang. Penulis berhasil membawa emosi pembaca untuk tersenyum dan menangis karena berhasil memunculkan suasana cerita. Beberapa kali perdebatan konflik dimunculkan Penulis dengan lugas pada tokoh, sehingga memperkuat karakter Suar yang sedang mengalami kebimbangan.


Sudut pandang yang dipakai dalam novel ini ialah menggunakan sudut pandang orang ketiga, yakni Suar. Selain itu, sudut pandang orang pertama ialah digunakan pada tokoh Juang dalam catatan-catatannya. Sangat menarik. Novel ini memiliki dua kisah yang berbeda baik alur dan sudut pandang, namun tetap tertata apik dan menyatu. 


Kekurangan Buku

Catatan Juang, memiliki kisah panjang yang terdiri dari empat bagian. Saya berekspektasi bahwa novel ini akan membuat momen mengejutkannya, akan tetapi sepertinya Penulis membuat alur yang sama di setiap bagiannya sehingga sedikit membuat bosan. Hal ini karena pola dalam menulis cerita ini ialah diawali dengan kontemplasi, kemudian berlanjut pada catatan Juang, kemudian dilanjutkan dengan penceritaan dari tokoh Suar. Meskipun demikian, kisah Catatan Juang ini ialah novel yang ringan dan cocok untuk dibaca di kalangan remaja dan dewasa.


#5CC #bentangpustaka #BookdragonCareerClass #writingcareerclass



Thursday, 23 March 2023

Damar #5

 


“Ayo dari keluarga mempelai laki-laki berbaris untuk mengiringi pengantin menuju tempat akad”, terdengar suara panitia merapikan barisan.


“Wulan, kamu ke depan nduk di belakang masmu”, akupun bergegas mengikuti arahan Bude Rima dan Bulik Ani.


“ssttt sttttt, Mas Damar, deg-degan kan?”, ledekku.


“sssstttttt Wulan”, Biyung melirik ke arahku.


Senyum dan tawaku adalah caraku menutup rasa kehilangan dan ketakutan. Aku bahagia Mas Damar telah menemukan tambatannya. Harapan dan mimpi yang kami tuju saat itu terlampaui sudah. Pergi ke Kota Semarang dan berkeliling di Jakarta, terbayarkan sudah seperti janjiku kepada Mas Damar, begitupun Mas Damar yang telah menepati janjinya untukku.


Akadpun dimulai, semua tamu seketika hening dan sunyi, mendengarkan dengan seksama Bapak Penghulu. Diawali dengan basmalah dan diiringi doa untuk memohon keridhoanNya, lalu dilanjutkan qobiltu dan “saaaaaaaaaaah”, alhamdulillah. Rasa haru, senang, bahagia dan kehilangan menjadi satu berkecamuk di ruang dada diiringi dengan tetesan keharuan.


Mbak Gendhis, perempuan pilihan Mas Damar keluar dengan baju putih, nampak berparas cantik dan anggun. Perempuan dengan senyum yang manis dan suara yang lembut, dibalut dengan kesederhanaan. Tidak heran, Mas Damar terpikat olehnya. Akupun memberikan salam dan ucapan selamat kepada Mbak Gendhis dan Mas Damar, diiringi dengan foto keluarga kemudian dilanjutkan dengan upacara pengantin Jawa.


Bapak dan Biyung, beberapa kali aku mengambil potret mereka berdua di atas panggung pelaminan. Keduanya sudah nampak semakin tua, keriputan dan garis wajahnya nampak sekali tergambar. Berpuluh-puluh tahun mereka hidup dengan payahnya, berusaha keras untuk kedua anaknya. Biyung, perempuan hebat dan cakap dalam mengurus rumah tangga. Bapak, seorang yang dikenal sabar dan lugu, hidupnya lurus dan mengikuti arus pada budaya, baginya adat perempuan sebatas sekolah lalu segera menikah.


Aku memandangi Mas Damar dan Mbak Gendhis, sesekali memotret senyum keduanya. Mas Damar, cinta yang dia kasihkan berasal dari ketulusan dan oh iya, sekarang bengkel milik Mas Damar sudah semakin berkembang, dilengkapi juga dengan fasilitas cuci mobil dan cuci motor, penghasilannya juga sangat lumayan. Mbak Gendhis, aku belum jauh mengenalnya namun aku yakin Mas Damar tidak salah memilih.


“Wulan?”, sayup ku dengar suara lelaki yang tak asing ku dengar.


“oh hai, dengan…”, diapun memotongnya


“aku Hendy Lan.”


Seketika aku terdiam. Lelaki yang lama menghilang tanpa kabar, kini datang tanpa dugaan.


“Tiga hari lalu Mas Damar datang ke rumah sambil anterin undangannya, kebetulan juga aku masih ambil cuti jadi sekalian aku datang kesini”, jelasnya, “by the way, kamu apa kabar?.”


“Ooh iyaa Hen, alhamdulillah baik, enggak nyangka setelah sekian tahun tidak ada kabar dan akhirnya bertemu disini yaaah”, kataku.


Kamipun tenggelam dalam cerita dan kisah petualangannya masing-masing. Pertemuan ini tak lain ialah karena Mas Damar, kakakku yang penuh dengan kejutan. Mas Damar dan Hendy memang kenal dekat dan baik selama ini, mereka akrab satu sama lain. Akan tetapi, Mas Damar tidak pernah bercerita tentang Hendy dan aku juga tidak tau menau apakah mereka masih saling bersapa.


Mas Damar menghampiriku yang sedang asyik bercerita dengan senyum lebarnya. Hendy, merangkul Mas Damar memberikan selamat dengan akrab. Mereka terbenam dalam cengkerama dan larut dalam obrolan singkat yang aku sendiri tidak mengerti. Sambil melirik ke arahku Mas Damar berkata, “nitip” lalu pergi kembali ke atas pelaminan melanjutkan sesi foto bersamanya.


“Jadi, kapan kamu berangkat ke Jakarta?”, tanya Hendy yang ternyata dia juga merantau di Jakarta.


“Lusa Hen”, jawabku singkat.


“Oke, berangkat bareng yuk”, lalu ia berpamitan kemudian melanjutkan,


“Oh iya, kabarin juga kalo kamu sudah siap Lan”, aku mengangguk dan tersenyum, lalu ia pergi.


Aku selalu meyakini bahwa pertemuan bukanlah sesuatu hal yang kebetulan terjadi, melainkan ada makna dan sebab musabab yang tersimpan didalamnya. Akan tetapi, tentang pertemuanku dengan Hendy, aku tidak mengerti apakah ada makna yang terpendam atau hanya kebetulan begitu saja. Perihal bagaimana kisah romansa masa depan, aku serahkan sepenuhnya takdir ini kepada yang Maha Cinta.


Akupun beranjak dan berpamitan untuk pulang, bergegas mengemas pakaian untuk persiapan kembali ke perantauan. Melakukan rutinitas seperti pada biasanya, menjadi mandiri tanpa kakak lelaki. Perlahan aku mencoba mendekat dan merekatkan kembali kepada Biyung dan Bapak, berjanji mengajak mereka untuk sekedar keliling Jakarta bulan depan untuk menepati janji yang belum juga terbayarkan.


Tamat.

#5CC #5CC15 #bentangpustaka #CareerClassQLC


Wednesday, 22 March 2023

Damar #4



Kebahagiaan dan kekompakan keluarga seketika sirna saat aku memutuskan untuk kuliah. Mulai dari sanalah rumah menjadi tidak nyaman, tidak juga hangat. Dingin. Pernah sekali aku memutuskan untuk tidak pulang, hanya karena Bapak tau aku meminjam uang dari teman untuk membeli buku cetak. Saat itu kondisiku sulit, beasiswa masih ada masalah hingga berujung pada penundaan pembayaran beasiswa.


Sejak keluar dari rumah ke Semarang, aku dipaksa untuk mandiri bertahan oleh keadaan. Puncaknya adalah pada semester enam, kebutuhan untuk iuran kegiatan KKN serta cetak proposal seminar hingga skripsi membutuhkan biaya yang cukup terasa. Belum juga kebutuhan membeli buku referensi atau sekedar cetak artikel ilmiah, sedangkan penghasilan dari mengajar les privat dan jaga toko hanya bisa untuk sekedar membeli makan. Yaaah, satu-satunya yang bisa aku andalkan hanyalah beasiswa.


Mas, ditambah satu orang muat enggak yo mobilnya? Mbak Wulan, Dek Ani tasih longgar kan? Anu, Bu Eni mau ikut nebeng.” Bude Rima memecah keheningan mobil ini.

Oalah, Bu Guru Eni badhe nderek to Budhe. Tasih muat o Budhe, mangkih Wulan tak mundur kursi belakang”, kataku.


Mobil berhenti persis di depan rumah Bu Eni, nampak perempuan berbalut busana kebaya cokelat dengan selendang yang disampirkan, sangat cantik. Bu Eni adalah kawan Bude Rima dan juga Guru Ekonomiku di SMA, beliau sosok yang sederhana dan lembut. Bu Eni masuk ke dalam mobil, menyapa Om Reno, Bude Rima, Bulik Ani dan mencubit Kirana, anak Bulik Ani yang sedang tertidur pulas dan kemudian menengok ke belakang,


“eeeeeeeeehhh, Mba Wulan, pangling lho makin cantik aja sekarang nih nduk, kamu apa kabar?” Bu Eni menyapaku girang.


Aku lanjutkan dengan bersalaman dan menjawab pertanyaan dari Bu Eni, “baik Bu, alhamdulillah, sehat-sehat Bu?”


“alhamdulillah nduk cantik, sehat. Rimaaa, seneng banget aku ketemu Wulan, cantik, pinter, masyaallah nduk”, puji Bu Eni.


“Nduk Wulan, Biyung dan Bapakmu kemarin seneeeeng banget waktu kamu ngabarin jadwal wisuda nduk. Sehari sebelum wisuda Biyung dan Bapakmu ke rumah Ibu, nanya disana ngapain aja, terus pakaiannya apa. Biyungmu lho sampai nangis seneng nduk, Bapak juga cerita perjuanganmu masuk perguruan tinggi, Bapakmu nolak tapi Wulan masih tetap nekat. Alhamdulillahe kok ada Mas Damar yang bantu jelasin Bapak dan Biyungmu, saiki to Rima, bocahe wes jadi wong gede Jakarta yooo”, cerita Bu Eni ke aku dan Bude.


Jujur, mendengar cerita Bu Eni, hatiku rasanya bergetar. Selama ini aku ternyata salah prasangka. Aku mengira, sikap dingin Bapak memanglah ungkapan Bapak untuk menentang pilihanku. Ternyata aku salah selama ini, dari sini aku belajar satu hal bahwa respon dingin orang tua bukan berarti mereka acuh, mungkin saja mereka tidak pandai mengungkapkan perasaannya.


“Iya Bu Eni, waktu Wulan masuk TV menang lomba itukan diwawancara, Biyung Bapake Wulan ngajaki nonton rame-rame di warunge Bu Jamilah. Bungah buangettt Lan Bapakmu, masyaallah”, kata Om Reno.


Aku tersenyum mendengar cerita mereka. Ternyata, banyak kisah yang rupanya aku lewati selama ini, terlebih bahwa aku menganggap rumahku ini bukan lagi rumah. Saat itu, sepulang dari wisuda, tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Bapak maupun Biyung, semua berlalu begitu saja saat itu. Boro-boro ucapan selamat, sekedar menanyakan kabar pun tidak. Sangatlah kontras dengan apa yang disampaikan Om Reno, Bu Eni dan Bude Rima. 


Selain hubunganku dengan orang tua yang kurang baik, kebencianku dengan Mas Damar saat itupun terjadi. Karenanya, aku harus berjuang keras melawan kehidupan di Kota Semarang. Segala pekerjaan aku kerjakan, mulai dari guru les, mengikuti ajang lomba gratis, jaga toko kelontong, jadi pramusaji di salah satu restoran Jepang dan terakhir menjadi asisten dosen. Semuanya aku lakoni dengan sabar dan sepenuh hati.


Waktu itu, aku mengira bahwa seusainya aku wisuda, keluarga akan lebih dapat menerimaku. Ternyata tidak. Sayup-sayup seringkali aku mendengar obrolan di tukang sayur setiap pagi, “Wulan jadinya kerja dimana Bu, cah pinter, ayu, sekolah tinggi, kok masih di rumah". 


Kalimat itu semakin sering ku dengar, kemudian diikuti Biyung yang merengut masuk ke rumah sembari berkata, “Wulan, wis wisuda emang ora bisa langsung kerja nduk? Lihat anak Pak Rofiq, dia lulusan SMK sudah bisa ikut ngelaut atau anak Bu Farida lulus SMA sekarang sudah kerja di Koperasi Simpan Pinjam.”


Aku hanya terdiam jika Biyung sudah berkata demikian. Belum lagi Bapak yang sesekali menawarkan pekerjaan di Koperasi dekat rumah, kata Bapak daripada menganggur. Situasi saat itu membuatku semakin merasa tidak berguna, beberapa kali ucapan menyudutkanku dan membandingkan nasibku dengan nasib orang lain atau teman sepantarku. Sesekali aku menangis, aku merasa tidak berarti. 


Mas Damar, hanya dia yang tidak pernah berkomentar. Ia justru selalu memberikan selebaran lamaran kerja di koran dan meletakkannya di atas meja kamar, sampai bertumpuk. Berawal dari inilah hubungan antara aku dan Mas Damar mulai terjalin kembali seperti sebelumnya. Mas Damar mendukungku penuh semangat. 


“Wulan, siap-siapin seserahane nduk, kita udah mau sampai”, Bulik Ani menyenggolku dan berbisik.


“Nggih Bulik”, jawabku sembari menggapai kotak seserahan Mas Damar.


Cerita Bu Eni dan Bude Rima tadi membuatku tertegun mendengarnya. Berkat acara Mas Damar, aku jadi tau berbagai sudut pandang dari cerita orang-orang sekitar. Aku masih dengan rasa angkuhku enggan untuk memulai percakapan dengan Biyung dan Bapak. Sampai sekarangpun, hubungan kami masih dingin, aku berharap pada semesta agar esok dapat mendukung itikadku untuk kembali menghangatkan keluarga ini.


(Bersambung...)


#5CC #5CC14 #BentangPustaka #CareerClassQLC


Kira-kira, bagaimana kelanjutan kisahnya? Apakah Wulan mampu untuk menghangatkan kembali rumah yang sudah dingin ini? Nantikan kisahnya ya gais, stay tuned!





Damar #3




“Nduk Wulan, tolong bantuin Bude Rima sama Bulik Ani bawa seserahan yo nduk, nanti nitip di mobil Om Reno”

Suara Ibu membuyarkan lamunanku. Akupun bergegas untuk mengambil barang-barang seserahan Mas Damar yang dalam beberapa jam lagi sudah sah milik orang.

“Mbak Wulan, kenapa ditekuk terus sih mukanya, gimana cowok berani mendekat to mbak”, Bude Rima dengan nada bercanda.


“Ih bude, hahaaa, doakan Bude biar segera menyusul Mas Damar naik pelaminan”, jawabku sekenanya.


“ayok cah ayu, kita bawa seserahan ini ke mobil Om Reno” , ucap Bulek Ani.


“Oke Bulik, laksanakan!”, sambil sikap hormat lalu mereka tertawa melihat tingkahku.


Akupun mengikuti Bude Rima dan Bulik Ani, kami berjalan menghampiri mobil Om Reno. Meletakkan beberapa kotak seserahan dan memastikan semuanya terangkut dengan aman. Hatiku makin tidak karuan, jantung makin berdebar ketika teringat hari ini Mas Damar akad pernikahan.


Setelah semua seserahan selesai diangkut, kamipun bersiap untuk perjalanan menuju rumah mempelai perempuan. Om Reno nampak sedang koordinasi dengan rombongan mobil lainnya, mungkin membahas rute mana yang akan dilewati dengan Pakde Giar dan Pakde Karto.

 

sampun sedoyo? Mboten wonten sing ketinggalan?”, Om Reno menanyai kami di setiap mobil untuk memastikan tidak ada barang dan juga orang yang tertinggal. Bismillah. Mobilpun mulai berjalan, kemudian terdengar suara Bude Rima memecah keheningan,


“besok tahun depan giliran kamu ya cah ayu”


“aamiin, insyaallah Bude”, jawabku.


“Oiya Wulan, temenmu yang dulu sempet main ke rumah sekarang dimana?” pertanyaan Bulik Ani di luar ekspektasi.


“siapa sih Bulik?”, tanyaku memastikan apakah yang ada di pikiranku sama dengan pikiran Bulik Ani.


“Itu lho, yang dulu temenmu SMA, siapa namanya bulik lupa, yang dulu sering ke rumah ngurus kepanitiaan penerimaan siswa baru yang kalo ke rumah naik sepeda”


“oooh, Hendy ya Bulik”


“iyaaaa, sekarang apa kabar dia Lan dan dimana sekarang?”, tanya Bulik Ani.


Hendy, adalah sosok sahabatku semasa sekolah sejak SMP kemudian kami bertemu lagi di SMA yang sama. Kami dikenal saling berkompetisi apalagi waktu pemilihan Ketua OSIS SMA, saat itu antara anak jurusan IPA dan IPS jadi pecah kubu, aku dari IPS dan Hendy adalah IPA, kami saling berebut suara dengan kampanye dan propaganda yang kami usung masing-masing.


Pada hari penentuan, hasil votingku ternyata lebih tinggi dibandingkan Hendy. Beda tipis, hanya 2 poin. Lalu, di hari yang sama aku resmi menjadi Ketua OSIS dan Hendy adalah Wakil Ketua OSIS. Selama kami menjalankan tugas, semuanya terasa berjalan lancar. Kami saling back up satu sama lain dan menyatukan kubu IPA dan IPS, berbaur bersama. 


Berawal dari OSIS inilah kami menjadi dekat dan semakin akrab. Sesekali ia berkunjung ke rumah untuk sekedar mengajak belajar kelompok atau sekedar mengajak olahraga di alun-alun.


Sesekali juga kita ribut, memperdebatkan pemikiran kita yang tidak sejalan. Meskipun demikian, dia adalah sosok lelaki yang loyal, tanggung jawab dan baik hati serta terbuka dengan segala masukan, salah satunya masukan dari Mas Damar. Ia cukup dekat dan teracuni dengan ide-ide Mas Damar. 


“oalah Mbak Wulan kalo ditanya ngga dijawab malah mesem mesem”, celetuk Om Reno.


“oiyooo Om, ngapunten lho Bulik, Wulan lho malah keinget masa-masa SMA”, jawabku.


“tapi, Wulan juga ngga tau Bulik sekarang Hendy dimana, terakhir sih ketemu di UGM dan sempat mengobrol kalo dia kuliah di ITS jurusan teknik, hmmm, tapi kurang paham teknik apa, wong Wulan enggak pernah berkirim kabar ke dia”, lanjutku menjelaskan.


sing mana to, Bude kok kepo iki lho”, Bude Rima menambahkan.


cocok Bude nek kalih Wulan”, canda Bulik Ani.


Akupun hanya menimpali dengan senyuman dan tawa. Sepanjang perjalanan ini, memoriku tentang masa SMA pun terpanggil. Masih sangat jelas terekam Hendy yang terakhir kali aku melihatnya waktu kita mengikuti lomba karya ilmiah nasional di UGM. Ngobrol sebentar, lalu pergi. Sosok yang hangat dan menyenangkan sejauh ini.


Duduk di bangku SMA adalah masa yang paling berkesan saat itu. Memiliki banyak teman dan riuh saat aku diminta maju memimpin upacara atau sekedar menjadi MC kegiatan. Serasa panggung ini milikku. Hingga menjadi salah satu perwakilan sekolah untuk mengikuti kegiatan pertukaran pelajar di salah satu Sekolah Internasional di Semarang beberapa bulan. Pengalaman yang sangat berharga.


Disamping itu, peran keluarga yang hangat dan kompak adalah penyemangatku untuk bergerak maju. Biyung yang riweh ketika tau aku akan orasi pemilihan ketua OSIS dan memintaku berlatih di depan Biyung. Bapak ikut menjadi audiens bersama Mas Damar yang sesekali menyumbangkan tepuk tangan. Lucu. Aku bersyukur berada di lingkungan keluarga yang hangat ini dengan kebahagiaan yang sederhana.


#5CC #5CC13 #Bentang Pustaka #CareerClassQLC